JAKARTA - Pemerintah tidak memasukkan nama mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan. Kendati demikian, dukungan agar Soeharto menjadi pahlawan tak lantas mereda.
Mantan Ketua DPP Partai Golkar era 2004-2009 Zainal Bintang menilai, Soeharto memenuhi syarat untuk menjadi pahlawan nasional.
"Zaman Pak Harto banyak sekali prestasi yang berpengaruh terhadap pembangunan bangsa ini," kata dia disela acara diskusi di gedung Jakarta Media Center, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2011).
Di bidang pendidikan, kata dia, pemerintahan Soeharto membentuk Sekalah Dasar (SD) Inpres. Sedangkan di bidang pertanian, pemerintah saat itu memberikan hewan ternak dan bibit tanaman kepada petani.
Untuk mengangkat pembagunan di daerah, pemerintah Soeharto juga membangun insfratruktur daerah, dengan begitu pembangunan akan menjadi merata.
"Buktinya itu, terlepas adanya perubahan politik. Tapi perubahan politik tak lantas melupakan jasa-jasa," tegasnya.
Menurutnya, ini menjadi sangat bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Dibidang kesehatan, Soeharto juga mengeluarkan kebijakan Keluarga Berencana dan membuat ribuan Puskesmas di daerah.
"Kita juga pernah menjadi pengekspor beras. Ini bisa menjadi bahan perbandingan untuk menilai Pak Harto," cetusnya.
Lanjutnya, Soeharto dianggap bersalah hanya oleh lawan politiknya. Kalaupun apa yang selama ini dituduhkan kepada Soeharto benar, sudah dibayar dengan kelengserannya.
"Kalau dianggap lawan politiknya Soeharto bersalah itu sudah dibayar dengan lengser. Dia lengser dengan legowo dan ksatria," pungkasnya.
Kata dia, untuk menjadikan Soeharto sebagai pahlawan masih terkendala waktu. Masyarakat masih diselimuti trauma dengan masa lalu, ketika Soeharto diturunkan secara paksa. Dia yakin Soeharto akan mengikuti jejak Syarifudin Prawiranegara sebagai pahlawan yang sebelumnya dituding pemberontak.
Baginya, tidak perlu terlalu mengekspos kebaikan Soeharto agar untuk membuka mata publik. Dengan keadaan pemerintahan saat ini, memaksa masyarakat untuk membuat perbandingan dalam segala bidang.
"Kalau sekarang memang jangan dipaksakan karena jarak tumbangnya Soeharto masih dekat sekali, masih ada trauma politik. Penolakan boleh saja tapi faktanya ditengah penolakan juga ada dukungan," pungkasnya.
(teb)