JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengritik rencana Sekretariat Jenderal DPR merenovasi toilet gedung Nusantara I DPR.
Padahal, kata Ray, sepanjang 2011 tak terdengar cerita manis dari gedung wakil rakyat ini, kecuali pansus Bank Century.
"Itu pun berakhir mengambang, makin tak jelas ujungnya. Di luar itu, kisah DPR adalah kisah kemalasan, percaloan dana APBN, sikap hidup yang hedonis dan penghamburan APBN via studi banding dan pembangunan fasilitas DPR," kata Ray, dalam keterangan persnya kepada okezone, Rabu (4/1/2012).
Awal tahun 2012, lanjut Ray, DPR justru merencakan renovasi toilet dengan biaya anggaran Rp2 miliar. Bagi DPR dana sebesar itu boleh jadi kecil, namun menurut Ray, hal tersebut menambah sakit hati masyarakat.
“Urusan mempersolek tempat buang hajat sekalipun memakan biaya sampai miliar adalah hal sepele. Tentu tak perlu diulang-ulang rasa sakit hati yang dialami rakyat. Nampaknya, realitas itu makin abstrak dalam ingatan mereka," tuturnya.
Di lain pihak, kata aktivs antikorupsi, DPR justru terkesan membiarkan penderitaan pemerotes jahit mulut di depan gedung DPR.
"Negeri ini, seperti tak boleh menunda apapun yang menjadi kebutuhan anggota DPR. Rakyat boleh menderita, menjahit mulutnya, ditembaki polisi karena lahan sengketa, dipenjarakan karena sandal jepit, tapi DPR hanya peduli soal bangun toilet seharga Rp2 miliar," katanya.
Karena itu Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) mendesak agar DPR menunda rencana perbaikan toilet DPR tersebut yang menggunakan dana negara untuk sebanyak-banyaknya memfasilitasi kebutuhan rakyat. Menunda kesenangan diri sendiri untuk kepentingan rakyat merupakan sikap mulia.
(ded)