Pada Maret 2013 ini, Malaysia mau melaksanakan pemilihan umum. Bisa jadi pemilihan umum di negeri jiran ini sebagai pemilihan umum yang demokratis. Mengapa demikian? Desakan negara-negara Barat dan ASEAN kepada pemerintahan junta militer Myanmar yang akhirnya mampu membebaskan Aun Sang Suu Kyi, dampaknya tidak hanya menimbulkan era keterbukaan dan demokratisasi di negara yang awalnya bernama Burma itu, namun juga kepada negara ASEAN lainnya, termasuk Malaysia.
Dampak di Malaysia adalah dibebaskannya mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, yang sekarang menjadi tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, dari berbagai macam tuduhan atas tindakan asusila yang selama ini menimpa pada dirinya.
Hal demikian tentu membuat langkah Anwar Ibrahim untuk menjadi orang paling penting di negaranya menjadi lebih lapang dan ringan. Jeratan hukum padanya tentu mempersulit dirinya dalam menggalang kekuatan. Namun sekarang ia bebas melakukan manuver apa saja demi meraih dukungan dan popularitas dirinya.
Namun yang terasa aneh pada Anwar Ibrahim adalah mengapa dirinya lebih suka ‘berkampanye’ di Indonesia daripada di negaranya sendiri? Kalau kita lihat selama ini Anwar Ibrahim tak bosan-bosannya datang ke Indonesia untuk orasi ilmiah, pidato kebudayaan, keeynotespeech, dan menjadi narasumber kegiatan diskusi, seminar, dan semacamnya.
Dalam setiap kegiatan itu, ruang-ruang yang disediakan panitia selalu penuh dengan undangan. Dan dalam kesempatan tersebut Anwar Ibrahim dengan semangatnya memberikan berbagai informasi mengenai negaranya, demokratisasi, ekonomi, Islam, dan hubungan antarnegara. Sambutan yang meriahlah yang membuat Anwar Ibrahim merasa tersanjung dan tak bosan-bosannya datang ke Indonesia untuk menjadi narasumber.
Selain mendapat sanjungan yang meriah dari masyarakat Indonesia, bisa saja Anwar Ibrahim melihat budaya demokratisisasi di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan Malaysia. Forum-forum demokratisasi di Indonesia seperti seminar, diskusi, dan talkshow tumbuh subur dan bebas dibanding dengan Malaysia. Mungkin Anwar Ibrahim merasa kesulitan mendapatkan panggung seperti itu di negaranya.
Lalu bagaimana peta kekuatan politik Anwar Ibrahim di Malaysia sendiri? Sebelum menjadi oposisi, Anwar Ibrahim adalah Wakil Perdana Menteri Malaysia. Entah karena mempunyai jiwa pemberontak atau terinspirasi dengan gerakan reformasi di Indonesia tahun 1998, ia melakukan perlawanan dengan Perdana Menteri Mahathir Muhammad. Karena tradisi penggulingan kekuasaan bukan tradisi politik di Malaysia dan masa jabatan dari Mahathir Muhammad belum berakhir, maka ia pun dipecat dari jabatan Wakil Perdana Menteri dengan tuduhan sodomi.
Dengan berbagai tuduhan dan bukti, maka ia pun akhirnya dikenai penjara atau tahanan. Dari massa pemerintahan Mahathir Muhammad, Abdullah Ahmad Badawi, dan Najib Tun Razak, gerakan Anwar Ibrahim timbul tenggelam. Dalam sebuah kesempatan demonstrasi, disebutkan ada 300.000 orang yang berasal dari partai oposisi, LSM, dan aktivis pro demokrasi, yang tergabung dalam Koalisi Bersih melakukan unjuk rasa menuntut reformasi aturan pemilu. Namun gerakan-gerakan itu sepertinya tidak membuahkan hasil. Malaysia di bawah pemerintahan yang ada tetap kokoh berdiri.
Gerakan demokratisasi terjadi di Malaysia saat ini, memang salah satu faktornya adalah adanya gerakan oposisi, namun itu bukan yang utama, yang juga menentukan adalah dampak dari desakan Barat dan negara-negara ASEAN terhadap Myanmar dan adanya cari muka dari pemerintahan Najib terhadap dunia internasional dan kalangan prodemokrasi Malaysia.
Dan sejauh mana perubahan di Malaysia itu akan terjadi? Suatu perubahan itu terjadi apabila terjadinya ketertutupan akses segala lini kehidupan. Dari ketertutupan inilah membuat kegelisahan di masyarakat. Kegelisahan ini akan diwujudkan dalam bentuk perlawanan-perlawanan sosial, kalau secara ilegal melalui kerusuhan atau kudeta, kalau secara legal menggunakan jalur pemilu, yang keduaduanya bertujuan untuk mengganti kekuasaan yang dirasa tidak amanat.
Namun sepertinya hal itu tidak terjadi di Malaysia. Di Malaysia kondisi politik dan ekonomi dirasa paling stabil dibanding dengan Indonesia, Thailand, Filiphina, dan Myanmar. Dalam sejarah politik di Malaysia, negara itu berdiri tanpa mengalami kesulitan seperti negara-negara lainnya, yang telah memakan korban jiwa dan raga. Akibat dari yang demikian maka proses pembentukan negara menjadi garing dan tidak mempunyai pijakan sejarah yang cukup berarti. Akibatnya betapa susahnya ketika Anwar Ibrahim menggalang kekuatan untuk melakukan demokratisasi. Faktor yang demikian, ditopang dengan pertumbuhan ekonomi yang mampu mensejahterakan rakyat mampu mengurangi keterlibatan rakyat dalam gerakan-gerakan demokratisasi.
Malaysia memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit dibanding Indonesia sehingga angka pengangguran di Malaysia lebih mudah untuk ditekan. Di Malaysia, contohnya, pada pada triwulan IV-2006 dan Januari 2007 tingkat pengangguran terbuka sebesar 3,0% dan 1,6%. Sementara Indonesia pada tahun 2006 pengangguran terbuka mencapai 10,9 juta atau 10,3%.
Dari faktor pertumbuhan dan minimnya pengangguran di Malaysia, secara logika membuat gerakan yang dilakukan Anwar tidak didukung oleh masyarakat sebab kemapanan ekonomi tidak akan menyebabkan orang berbondong-bondong menuntut perubahan. Gerakan Anwar Ibrahim bisa berhasil bila angka penggangguran tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung menurun.
Faktor-faktor sejarah yang tidak mendukung dan kemapanan ekonomi di Malaysia-lah yang membuat Anwar Ibrahim merasa ‘tidak nyaman’ di negerinya, sehingga ia lebih suka berkampanye di Indonesia.
Dalam masalah ‘dukungan’ Indonesia kepada Anwar Ibrahim itu sepertinya tidak akan mengalir kepadanya. Alasannya, pertama, politik luar negeri Indonesia tidak agresif. Lain halnya dengan Amerika Serikat yang bisa menaikan dan menurunkan seseorang menjadi kepala pemerintahan di sebuah negara. Sedang politik luar negeri Indonesia selama ini, dalam masalah kepala pemerintahan negara lain, cenderung pasif hanya sebatas mengamati dan memprediksi langkah-langkah apa yang akan diambil. Kedua, Anwar Ibrahim selama berkunjung ke Indonesia lebih dekat kepada kelompok-kelompok oposisi, cendekiawan, dan intelektual daripada dekat dengan pemerintahan SBY. Hal demikian membuat kehadiran Anwar Ibrahim pastinya akan diawasi oleh aparat pemerintah Indonesia.
Di dalam negeri Malaysia sendiri, langkah Anwar Ibrahim yang sering berkunjung ke Indonesia akan menjadi antipati bagi kalangan ultranasionalis Malaysia yang tidak suka dengan Indonesia. Seringnya Anwar Ibrahim ke Indonesia justru akan menegasi dirinya dalam pemilu yang akan datang.
Ardi Winangun
Pengamat Politik dan
Ketua Forum Alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa-Megawati Institute
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.