tragedi sukhoi

NEWS » Opini

Jusman Dalle

Propaganda Basi ala Barat

Senin, 13 Februari 2012 09:50 wib

Iran bergeming. Tekanan dari Israel, Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap kritik  program riset nuklirnya tak membuat negeri para mullah itu surut walau selangkah. Pasca-dijatuhi sanksi embargo minyak oleh Uni Eropa (UE), Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad malah melancarkan diplomasi agresif dengan mengunjungi sejumlah negara. Rusia, China dan Kore Utara serta beberapa negara di Amerika Latin berada di barisan Iran. Barat yang terdiri dari Israel, AS dan UE di barisan lain. Politik global pun kembali terfriksi ke dalam dua blok utama.

Timur Tengah Baru


Embargo AS dan UE kepada Iran tentu akan berdampak bagi perekonomian dan politik kedua belah pihak. Yang pasti, mulai 1 Juli mendatang Iran akan kehilangan sekitar 20 persen pasar minyaknya selama ini. Sedangkan bagi Eropa, utamanya anggota UE seperti Yunani yang kebutuhan minyaknya 30 persen disupply dari Iran, aksi ikut-ikutan embargo akan semakin memperparah krisis yang terjadi.  Praktis, Yunani dan anggota UE pun dipaksa bergerak cepat untuk memastikan supplyer baru di tengah krisis finansial yang terus mengguncang benua biru tersebut dan upaya terus menstimulus perekonomian yang kian sempoyongan.

Apakah Libya, Arab Suadi, Yaman, Irak, Mesir atau Suriah yang bersedia menjadi supplyer baru mereka? Semua masih tanda tanya. Karena kawasan Timur Tengah yang kaya dengan energi tersebut, hingga saat ini masih terus bergolak. Pascarevolusi, tentu mereka masih sibuk berkutat pada konsolidasi politik domestik.
Timur Tengah sebagai kawasan strategis bagi stabilitas negara-negara yang berada dalam mainstream kapitalisme karena supply emas hitam, kini sedang mengalami masa transisi. Hal ini tentu mengurangi  kohesifitas pengaruh barat secara signifikan. Akan ada penguasa dan cara pandang baru dalam mempolakan hubungan ekonomi politik Timur Tengah. Termasuk dengan AS dan Eropa. Berbeda dengan sebelumnya, ketika negara-negara utama di kawasan kaya energi itu menjadi kacung mereka.

Maka tak berlebihan asumsi bahwa putusan politik mengembargo Iran, sesungguhnya tindakan ceroboh. Akan semakin merugikan perekonomian negara-negara Eropa sendiri. Selain berurusan dengan krisis ekonomi, AS dan UE harus menghadapi konsekuensi “tekanan” dari negara yang selama ini mendukung Iran, seperti Rusia, Korea Utara dan China. Konsentrasi pada penyelesaian krisis domestik di AS dan UE akan terpecah, dan bisa jadi memicu kritik dari rakyat dan berujung pergolakan sosial politik.
 
Sedangkan bagi Iran, masih ada pasar besar di Asia seperti China dan India dan Korea  Utara yang membutuhkan lebih banyak energi untuk menjaga ritme kebangkitan ekonomi mereka. Maka poin kedua dampak negatif embargo tersebut adalah, Asia akan semakin solid dan secara an sich sebenarnya dunia semakin terfragmentasi pada dua kutub kekuatan besar. Barat versus Timur. Barat sudah nyata merepresentasi wajah kapitalisme. Sedangkan timur masih tarik menarik antara Islam, sosialisme atau upaya elaborasi antara berbagai ideologi yang ada.

Dunia Terseret

Variabel lain yang juga tidak terpisahkan dari dinamika tersebut adalah pemilu AS. AS yang menjadi model utama praktek kapitalisme, pada November 2012 ini akan melangsungkan pemilihan Presiden. Stabilitas ekonomi nasional AS dan kepastian posisi politik AS di Timur Tengan pascarevolusi, termasuk implikasi setelah AS bersama UE menjatuhkan sanksi berupa embargo terhadap Iran, tentu menjadi variabel yang memengaruhi isu utama pesta demokrasi empat tahunan tersebut.
 
Petahana, Presiden Barack Husein Obama dari Partai Demokrat yang kembali mencalonkan diri dan dikenal lebih akomodatif terhadap Timur Tengah, harus mampu mengelola dinamika politik Timur Tengah yang belakangan justru kelihatan sanagat liar. Utamanya bagi kepentingan barat. Tentu kebijakan yang tidak hanya pada wacana, tetapi lebih kongkrit pada langkah kebijakan politik sesuai ekspektasi rakyat AS. Tak hanya AS, di UE juga tensi politik sedang menegang akibat egoisme sejumlah anggota UE terhadap kebijakan konservatif mereka menyikapi krsis utang yang terjadi.

Maka embargo emas hitam Iran justru kontraproduktif dengan upaya pemulihan krisis yang dilakukan AS dan UE. Selain menciptakan ketegangan antara Timur yang di back up oleh Rusia, China dan Korea Utara versus Barat, yaitu Eropa dan Amerika serta Israel, juga justru menjadi treagger friksi di internal UE sendiri.
Jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, justru akan semakin memperparah ironi krisis yang belum juga reda. Perekonomian global akan terseret arus  ke jurang krisis yang lebih dalam. Termasuk menyeret negara-negara yang tidak tahu menahu dan tidak ikut campur dalam kepentingan kedua belah pihak.

Ada benarnya  apa yang disampaikan Kepala Bidang Keamanan dan Perlucutan Senjata Nuklir Rusia, Mikhail Ulyanov, bahwa kebisingan soal program nuklir Iran yang berbuah sejumlah sanksi, sebenarnya hanya jalan mencapai tujuan-tujuan politis dan propaganda Barat yang sama sekali tidak menguntungkan bagi dunia. Propaganda basi yang seringkali menjadi alat legitimasi Barat untuk mengboarkan perang dan menebar kebencian.

Persis seperti saat AS di tangan George Walker Bush yang menuding rezim Saddam Husein di Irak menyimpan senjata pemusnah massal, namun kemudian tidak terbukti. Dan kini, nasib Irak berubah naas. Dirundung konflik. Kita tidak ingin Barat mengulangi kebodohan yang sama. Pertanyaannya, mampukah Presiden SBY yang dikenal intim dengan AS dan secara psikologi juga mudah diterima oleh Iran yang mayoritas muslim, melakukan diplomasi untuk menurunkan tensi ketegangan? Pemerintah tentu harus malaksanakan amanat konstitusi, memerankan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Jusman Dalle
Analis Ekonomi Politik Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
Penulis Opini dan Essay di Koran Nasional
Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
Twitter: @JusDalle


(//mbs)