Agaknya alur perkembangan kasus korupsi Wisma Atlet yang melibatkan sejumlah elite Partai Demokrat kian mendekati tahap klimaks. Pascakesaksian Mindo Rosalina Manulang dan Yulianis terhadap terdakwa mantan bendahara umum Partai Demokrat M Nazaruddin di muka persidangan terkait keterlibatan Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi Wisma Atlet, kini nasib ketua umum Partai Demokrat tersebut seakan berada di ujung tanduk.
Tidak hanya itu kasus ini juga berpotensi mengakibatkan suara Partai Demokrat “terjun bebas” dalam pemilihan umum tahun 2014 mendatang. Tingkat elektabilitas Partai Demokrat akan merosot tajam jika permasalahan pelik ini tidak segera dituntaskan.
Apalagi Partai Demokrat seringkali mengusung slogan “katakan tidak pada korupsi!” dalam iklan-iklan politik mereka. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) awal Januari 2012 lalu yang menempatkan Partai Demokrat pada posisi ketiga pilihan publik jika pemilihan umum diadakan hari ini merupakan gambaran konkret bahwa perolehan suara Partai Demokrat merosot jauh dibandingkan Partai Golkar dan PDIP.
Dalam menyikapi badai politik itu berhembus sikap pro dan kontra di kalangan internal Partai Demokrat terhadap wacana pelengseran Anas Urbaningrum dari jabatan ketua umum. Mereka yang kontra berusaha membela Anas Urbaningrum dengan menyatakan kader-kader Partai Demokrat tetap solid dan tidak terjadi perpecahan. Sebaliknya, mereka pro mengatakan Partai Demokrat telah menyiapkan sejumlah nama untuk menggantikan Anas Urbaningrum seperti Djoko Suyanto, Andi Mallarangeng, Soekarwo, dan Marzuki Alie.
Memang, hingga detik ini belum ada DPD dan DPC Partai Demokrat di seluruh Indonesia yang meminta pelaksanaan kongres luar biasa (KLB). Jajaran kepengurusan Partai Demokrat di daerah agaknya masih solid mendukung Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai selama belum ada penetapan status tersangka oleh Komisi Pemberantasan korupsi (KPK).
Ketiadaan status tersangka pada diri Anas Urbaningrum itu juga yang agaknya membuat Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlihat bimbang ketika menyampaikan konferensi pers beberapa waktu lalu. Pencopotan Anas Urbaningrum tanpa alasan hukum yang jelas dapat menjadi bumerang bagi SBY karena dinilai melanggar statuta organisasi.
Meskipun demikian, posisi Anas Urbaningrum tidak lantas dapat dikatakan aman sepenuhnya dalam menghadapi badai politik ini. Jika kelak KPK menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka bersama beberapa elite Partai Demokrat lain boleh jadi realitas akan berbicara lain. Jika kelak hal itu terjadi sangat mungkin suara-suara kepengurusan partai di daerah akan meminta pencopotan Anas Urbaningrum dari jabatan ketua umum.
Dalam konteks itu, langkah strategis berupa penyelamatan organisasi harus segera dilakukan oleh Partai Demokrat. Sebuah organisasi seperti partai politik dengan pucuk pimpinan yang diduga kuat melakukan tindak pidan korupsi tentu merupakan hal yang sangat memalukan. Partai Demokrat harus berani melakukan “pembersihan” terhadap kader-kader partai yang selama ini hanya menjadi beban politik partai guna memulihkan kembali kepercayaan publik.
Pemulihan kepercayaan publik harus menjadi acuan utama bagi Partai Demokrat dalam bertindak dan mengambil langkah-langkah strategis. Wajar jika saat ini terjadi fluktuasi tingkat kepercayaan publik terhadap Partai Demokrat, tapi hal itu bukanlah sebuah hal permanen. Partai Demokrat masih memiliki kesempatan luas untuk memulihkan kepercayaan publik seiring waktu berjalan mendekati pemilihan umum tahun 2014.
Penyelesaian kasus hukum dan “pembersihan” terhadap sejumlah elite dan kader mereka merupakan salah satu faktor penting penentu apakah partai berlambang mercy ini akan tetap memperoleh kepercayaan publik pada pemilihan umum mendatang atau justru ditinggalkan publik. Penulis tidak dapat membayangkan bagaimana nasib Partai Demokrat di masa mendatang jika tidak segera melakukan “pembersihan” terhadap sejumlah elite dan kader mereka yang bermasalah. Partai Demokrat harus konsisten dengan slogan “katakan tidak pada korupsi!”
Untuk itu, SBY selaku ketua dewan pembina Partai Demokrat harus tampil berdiri pada garis terdepan untuk melakukan tindakan itu. Kualitas kepemimpinan dan ketangkasan berpolitik SBY tengah diuji. Apakah ia mampu menyelesaikan konflik internal partai atau tidak? SBY memang dikenal sebagai sosok pemimpin dengan penampilan tenang dan penuh keraguan. Akan tetapi, gejolak politik di tubuh Partai Demokrat saat ini tengah menuntut dia untuk mampu bersikap tangkas dan tegas tanpa keraguan sedikit pun.
ALI RAHMAN
Pengurus DPP KNPI 2011-2014 (Tulisan ini pendapat pribadi)
(//mbs)