SURABAYA - Upaya Indra Azwan untuk mencari keadilan atas kematian anaknya Rizki Andika tak pernah surut. Bahkan, pria asal Jalan Genuk Watu Barat, Gang II, Nomor 95, Malang, Jawa Timur, ini menuliskan surat wasiat. Hal itu dilakukan untuk menjaga semua kemungkinan yang terjadi.
Sebab, tidak menutup kemungkinan banyak pihak yang tidak suka dengan aksinya tersebut.
“Saya juga telah menulis surat wasiat. Siapa tahu saya meninggal tidak wajar selama perjalanan mencari keadilan ini,” kata Indra kepada okezone yang ditemui ketika beristirahat di SPBU, Jalan Diponegoro, Surabaya, Senin (20/2/2012).
Surat tersebut berisi beberapa permintaannya kepada keluarga.
"Jika saya meninggal tidak wajar maka jenazah saya jangan dimandikan atau dikafani. Pihak keluarga diminta untuk membawa jenazahnya itu ke Istana Negara. Surat wasiat itu ada cap jempol darah saya,” ungkapnya.
Menurutnya, upaya itu adalah untuk berjaga-jaga saja. "Saya tidak ingin seperti Munir," tambahnya.
Seperti diberitakan, Indra Azwan mencari keadilan atas kecelakaan yang menyebabkan putranya Rizki Andkika tewas pada 1993. Menurut Indra, anggota polisi bernama Joko Sumantri yang menabrak anaknya itu tidak tersentuh hukum hingga saat ini.
Bahkan, oknum polisi ini masih menjabat di lingkungan Polda Jatim. Selain melakukan aksi jalan kaki, Indra Azwan juga empat kali mogok makan mulai tahun 2008-2010.
Pada Agustus 2010 dia nekat melakukan aksi jalan kaki dari Malang ke Jakarta selama 22 hari. Aksi ini membuahkan hasil dengan adanya instruksi Kemenkum HAM agar perkara ini diprioritaskan, namun sampai akhir tahun tak membuahkan hasil.
Pria empat anak itu nekat berjalan kaki menuju Makkah dan mampir ke Istana Negara.
(ton)