Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nasionalisme yang Terkoyak

M Budi Santosa , Jurnalis-Jum'at, 27 April 2012 |10:37 WIB
Nasionalisme yang Terkoyak
A
A
A

SENTIMEN Anti-Malaysia masih saja membara dan mudah tersulut. Selalu saja ada faktor pemicunya. Malaysia dan Indonesia, meski serumpun, namun menyimpan pergolakan nasionalisme. Kedua negara, meski terlihat mesra, sebenarnya menyimpan potensi letupan-letupan yang akhirnya bersinggungan dengan nasionalisme masing-masing. Contoh saja soal sengketa perbatasan, kekerasan terhadap TKI, sikap arogan aparat Malaysia pada para nelayan RI, hingga dugaan "suap" sepakbola pada ajang AFC 2011 silam.

Kasus terakhir yang menyentak rasa nasionalisme bagi Bangsa Indonesia adalah masalah dugaan perdagangan organ tiga warga Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Ketiga TKI yang bekerja di Malaysia ini meregang nyawa setelah didor oleh aparat Malaysia karena diduga mengendap-endap dengan menggunakan senjata tajam.

Meskipun perdagangan organ itu masih dugaan, sudah sepantasnya negara berdiri di depan untuk melindungi warga negaranya. Setidaknya, negara harus menunjukkan "gigi"-nya dengan membela kepentingan warga negaranya di saat mereka mendapatkan ancaman atas keselamatannya. Penembakan oleh aparat Malaysia pun sudah semestinya diprotes oleh pemerintah karena hal itu pun tergolong sebagai penistaan atas hukum dan HAM.

Berbagai masalah yang dialami TKI sudah semestinya menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja, dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) harus bersikap tegas. Jika perlu, harus ada upaya moratorium pengiriman TKI ke Malaysia hingga ada kejelasan sikap dari pemerintah Malaysia untuk melindungi para pekerja asal Indonesia.

Tidak cukup itu saja. Dugaan perdagangan organ juga harus diusut dan diumumkan ke publik. Jika ditengarai ada perdagangan organ, maka pemerintah Malaysia harus bertanggung jawab. Tidak cukup dilayangkan nota protes semata, jika perlu harus dibawa ke Mahkamah Internasional. Namun,  dialog bilateral tetap perlu dikedepankan dalam kerangka saling menghargai dan kedudukan yang sepadan. Jangan sampai posisi Indonesia terkalahkan.

Kini, semua rakyat negeri ini menantikan sikap tegas dari pemerintah. Semuanya akan menunggu hasil autopsi dari pihak kepolisian daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Dan yang terpenting, kasus ini menjadi ujian lagi bagi negara untuk memberikan perlindungan kepada warga negaranya. Kita tunggu sikap tegas itu.

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement