Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bahasa Alay Menggeliat, DPR Pasrah

Achmad Fardiansyah , Jurnalis-Kamis, 20 Maret 2014 |06:16 WIB
Bahasa <i>Alay</i> Menggeliat, DPR Pasrah
Ilustrasi Gedung DPR (Foto:Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI), Hanif Dhakiri, tak memungkiri kalau saat ini bahasa alay semakin "meracuni" bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa alay itu memang tidak bisa dilepaskan dari dinamisme masyarakat, karena bahasa semacam itu juga ada di belahan negara manapun, seperti di Amerika, Arab Saudi.

"Jadi bahasa slank, bahasa gaul, atau bahasa alay itu tidak bisa dilepaskan dari dinamika masyarakat, yang penting jangan sampai hal itu berkembang lalu mengaburkan pemahaman masyarakat tentang bahasa yang baik dan benar," kata Hanif kepada Okezone, Rabu (19/3/2014).

Politikus asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menuturkan, memang yang harus berperan untuk melestarikan bahasa Indonesia yakni ada di satuan pendidikan yang formal. "Mungkin pemerintah juga perlu melakukan evaluasi, baik dikurikulum maupun dari sisi penyampaian bahasa Indonesia. Apakah dari segi kurikulum sudah memadai atau belum?" ucapnya.

Kemudian, dari segi metode pengajarannya apakah sudah cukup menarik atau tidak. Pasalnya, kelebihan bahasa alay itu mudah diserap terlebih bahasa itu tersebar hingga kemana-mana. "Jadi orang ikut-ikutan saja, dan potensi pengaburan bahasa Indonesia menjadi mencuat," pungkasnya.

Sekedar diketahui belakangan ini, kita sering disuguhkan dengan istilah-istilah baru dan aneh dalam berkomunikasi. Ironisnya, istilah yang memelesetkan kata dari Bahasa Indonesia ini seakan menjadi kebiasaan atau gaya hidup sekelompok anak muda yang biasa disebut alay.

Misal saja, sering kita mendengar kata lambat diubah menjadi lambreta, barangkali menjadi keles, banget menjadi bingit, memang menjadi emberan, remaja wanita gaul menjadi cabe-cabean, dan lain sebagainya. Semua itu kini menjadi istilah baru dalam percakapan anak muda. Celakannya, istilah ini juga sudah menjadi bahasa tulisan di jejaring sosial yang dianggap sudah lumrah.

(K. Yudha Wirakusuma)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement