SOLO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku mendapat banyak tekanan saat membuat keputusan untuk menolak memberikan grasi kepada terpidana mati narkoba.
Menurut Presiden, berbagai tekanan datang dari keluarga terpidana mati, negara asal terpidana mati, non goverment organization (NGO) atau organisasi non pemerintah hingga yang terakhir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kendati demikian, Jokowi bersikeras dengan keputusannya dan melawan tekanan tersebut dengan menyatakan tidak akan mundur.
"Ini (eksekusi mati) adalah masalah mentalitas dan moral serta penegakan hukum terhadap mereka para penyelundup narkoba. Jadi 64 kasus yang diputus pengadilan, saya bisa pastikan ditolak. Sekalipun saya dapat tekanan dan dikirimin surat hingga ditelefon oleh negara mereka, NGO hingga PBB, tetap saya tolak," tegas Jokowi saat membuka Munas Partai Hanura di Solo, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2015) malam.
