Dijelaskannya, wilayah endemis demam berdarah, mulai dari Kecmatan Depok karena ada 36 kasus, Kalasan terdapat 33 kasus, Mlati ada 30 kasus, Godean 29 kasus, Gamping 26 kasus, Sleman 19 kasus, Berbah 17 kasus, dan Ngaglik dengan 10 kasus.
"Kecamatan lain ada, tapi dibawah 10 kasus. Ada juga yang nihil, artinya tidak ada sama sekali kasus demam berdarah, Kecamatan Turi dan Pakem," jelasnya.
Ciri wilayah yang endemis demam berdarah, kata dia, cukup banyak. Mulai dari kepadatan penduduk, saluran air yang kurang baik karena banyak genangan, hingga kebersihan lingkungan masyarakat.
Daerah yang menjadi endemis demam berdarah, kata dia cirinya adalah lingkungan yang padat. Saluran air banyak yang terkenang, kebersihan lingkungan kurang. Sedangkan daerah yang tidak padat penduduk jarang terjadi penyakit demam berdarah.
"Biasanya penderita demam berdarah akan berkurang setelah bulan Maret, karena intensitas hujan mulai berkurang," katanya.
Meski demikian, pihaknya meminta masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan. Hidup sehat dengan menjaga lingkungan bersih menjadi suatu keharusan agar tidak terkena serangan nyamuk saat pagi hingga siang itu.
"Yang jelas harus rajin dan menjaga kebersihan. Bak mandi harus dikuras secara berkala, jangan biarkan jentik nyamuk berkembang," katanya.
Yang tak kalah penting, lanjutnya, segera bawa ke rumah sakit jika ada gejala anggota keluarga terkena demam berdarah. Misal demam mendadak, pucat, nyeri dibelakang mata, muntah ada darah, bab berdarah, hingga bintik merah hitam di kulit yang menjadi ciri khas penyakit ini.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.