Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perjalanan Santoso, Teroris Paling Diburu di Indonesia

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Selasa, 19 Juli 2016 |11:08 WIB
Perjalanan Santoso, Teroris Paling Diburu di Indonesia
Teroris Santoso (Foto: MNC Media)
A
A
A

Ketika hendak didekati, sekelompok orang yang berjumlah antara lima sampai enam orang itu secara tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI-Polri. Tembakan dilepaskan dari urutan paling belakang dari kelompok tersebut.

“Pada saat patroli bergerak, kemudian menemukan mereka juga sedang bergerak, pasukan kita mendekat, tapi kemudian ditembak duluan. anggota kita pun melaksanakan balasan tembakan,” ujar Kolonel Infantri Syaiful Anwar.

Setelah baku tembak, pasukan gabungan TNI-Polri kemudian melakukan penyisiran dan menemukan dua orang tidak dikenal tersebut telah tewas dunia akibat luka tembakan.

Santoso Hanya Sebagai Ikon

Mantan Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Susnadi menjelaskan bahwa pemimpin kelompok teroris di wilayah Poso bukanlah Santoso, melainkan Daeng Koro.

"Santoso hanya ikon, pemimpin sebenarnya Daeng Koro alias Sabar Subagio alias Abu Autad," ujar Susnadi pada 2014.

Santoso, kata Susnadi, hanyalah sosok yang sengaja dibesarkan untuk menyamarkan peran Daeng Koro. Santoso sengaja dibesar-besarkan untuk menjadi ikon, akan tetapi operasional di lapangan tetap dipimpin oleh Daeng Koro.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya kepada Okezone. Menurutnya, image Santoso yang diceritakan oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai buron nomer satu dan paling berbahaya terlalu bombastis.

"Untuk image building dari kepentingan proyek kontra terorisme. Kalau cermat memahami kelompok Santoso, justru Daeng Koro lah yang sangat perlu diperhitungkan. Namun, sekarang dia Daeng Koro sudah meninggal," tegasnya.

Menurut Harits, sekarang kelompok Santoso tidak sekuat sebelumnya baik dari sisi jumlah personel maupun senjata.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat di Kompleks Kepresidenan mengatakan bahwa tiga orang pelaku terorismen melarikan diri saat terjadi baku tembak dengan Satgas Tim Operasi Tinombala. Ketiga orang yang melarikan diri, kata Tito,terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki.

Kendati demikian, Tito mengindikasi bahwa salah satu teroris yang tewas adalah Santoso. “Informasinya ada tahi lalat, itu yang jadi ciri khas Santoso. Ada jenggotnya juga. Tapi saya pikir jangan berspekulasi dulu. Biarkan teman-teman melakukan evakuasi. (Saat ini) sedang dibawa ke RS Bhayangkara di Palu, dibersihkan kemudian orang yang mengenali Santoso akan dibawa apakah betul dia," paparnya kemarin.

 

(Rachmat Fahzry)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement