BERLIN – Dunia pernah menyaksikan perang dingin antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat (AS) pada dekade 1950-1990. Perang dingin tidak terjadi secara langsung lewat kontak senjata, melainkan meningkatnya tensi politik kawasan akibat rebutan pengaruh blok Timur dan Barat.
Mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev menyebut, situasi dunia saat ini mengandung elemen-elemen perang dingin. Perkataan itu diucapkan Gorbachev kepada harian Jerman, Bild, dalam sebuah wawancara.
“Retorika yang digunakan politikus dan komandan senior militer semakin agresif, doktrin keras telah muncul. Hubungan antara kekuatan besar telah memburuk sehingga saya merasakan dunia bersiap-siap untuk perang baru. Dengan kata lain, semua elemen perang dingin baru sudah terpenuhi,” ujar Mikhail Gorbachev, mengutip dari TASS, Sabtu (15/4/2017).
Ia menjelaskan bahwa pada paruh kedua dekade 1980, Uni Soviet (USSR) dan AS mencapai sejumlah kesepakatan penting dan mulai mengurangi persenjataan nuklir masing-masing. Namun, situasi berubah setelah perpecahan Uni Soviet. Bahkan, pihak yang dulu menjadi sekutu utama Rusia itu, kini berseberangan dengan Moskow.
Mikhail Gorbachev meyakini perlombaan persenjataan saat ini sudah berlangsung. Perlombaan tersebut berlangsung utamanya akibat perilaku tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan Eropa Timur.
“Tidak hanya terasa sebentar lagi. Di beberapa tempat, bahkan sudah menguat. Tentara dimobilisasi ke Eropa, termasuk peralatan berat seperti tank dan kendaraan lapis baja. Belum lama tentara NATO dan Rusia ditempatkan cukup jauh satu sama lain. Sekarang mereka sudah saling berdekatan,” sambung Gorbachev, sebagaimana dilansir Sputnik.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.