Penjualan Susu Formula di Kediri Anjlok

Hari Tri Wasono, Jurnalis
Rabu 27 Februari 2008 21:02 WIB
Share :

KEDIRI - Meski pemerintah belum mengeluarkan larangan penjualan produk susu formula, angka penjualan susu di Kota Kediri merosot tajam. Hal ini menyusul hasil riset Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menemukan bakteri beracun Enterobacter sakazakii.

Sejumlah pengelola pusat perbelanjaan mengaku mengalami penurunan omzet beberapa hari terakhir, setelah munculnya hasil riset IPB itu. Hal itu tak pelak membuat mereka khawatir, jika kabar itu tidak segera direspon oleh pemerintah dan berkembang menjadi sentimen dagang.

"Pemberitaan tentang riset IPB itu sangat memukul penjualan susu formula kami. Banyak orang tua yang khawatir dengan keamanan susu dan memilih tidak membeli untuk sementara," ujar manajer Penjualan Golden Swalayan Kediri, Suprapto, Rabu (27/2/2008).

Kekhawatiran tersebut tampaknya cukup beralasan, mengingat dalam dua hari terakhir laporan penjualan susu formula di pusat perbelanjaan terbesar di Kediri itu, mengalami penurunan hingga 20 persen.

Angka itu termasuk cukup tinggi karena berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Apalagi diperkirakan jumlah ibu-ibu yang "memboikot" pembelian susu formula ini akan terus bertambah.

"Jumlah kaleng susu yang kami pasang di rak penjualan sama sekali tidak berkurang dalam setengah hari ini. Padahal, biasanya selalu ada penambahan stok di rak pajang," ungkapnya.

Hal yang sama juga terjadi di toko-toko kecil non-swalayan. Sejumlah pemilik toko mengaku kesulitan menjual produk susu formula menyusul kekhawatiran terjangkitnya bakteri Sakazakii. Meski berulang kali mereka berusaha meyakinkan pembeli, namun hal itu tidak begitu mempengaruhi ibu-ibu untuk tetap meninggalkan susu formula.

"Kalau begini terus kan repot. Kondisi ini menunjukkan betapa lemahnya perhatian pemerintah pada kegiatan produksi susu hingga muncul bakteri seperti ini," ungkap Ny Wiwik, salah seorang pemilik toko di Jalan Veteran.

Terlepas benar atau tidaknya hasil riset tersebut, menurutnya, pemerintah harus segera melakukan penelitian sendiri agar tidak menimbulkan kekhawatiran. Jika dibiarkan, ia khawatir kondisi ini akan dimanfaatkan sejumlah produsen untuk menjadikannya sentimen dagang.

Seperti diketahui, tim peneliti IPB menemukan adanya 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel), yang terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Bakteri jenis ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi, terutama bagi bayi di bawah usia satu tahun yang dapat menyebabkan meningitis.

(Ismoko Widjaja)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya