Ratusan Balita Trenggalek Alami Gizi Buruk, 1 Tewas

Solichan Arif, Jurnalis
Senin 03 Maret 2008 02:34 WIB
Share :

TRENGGALEK - Kasus balita penderita gizi buruk di Kabupaten Trenggalek sungguh mengejutkan. Pada tahun 2008 ini dinas kesehatan setempat mencatat masih ada ratusan orang balita di Trenggalek yang mengalami kekurangan gizi.

Akibatnya para balita tersebut selain mengalami gangguan kesehatan, yakni mudah terserang penyakit hingga berakibat kematian, juga terlambat dalam   pertumbuhan dan berat badan.

Bahkan, salah satu bayi pengidap gizi buruk itu pada Minggu (2/3) dini hari, meninggal dunia. Balita bernama Tasya ini berusia enam bulan dan putri bungsu dari dua bersaudara pasangan suami istri  Rusdi (58) dan Ny Sulasmi (53).

Puteri warga Desa Ngadirenggo RT 03 RW 01 Kec Pogalan itu menghembuskan nafas terakhir di ruang Instalasi Dahlia RSUD dr Soedomo. Sebelumnya Tasya sempat mendapat perawatan selama empat hari bersama dua orang balita gizi buruk lainya, yakni Angga berusia satu tahun warga Desa Krandekan Kec Gandusari Kab Trenggalek dan Ayesa berusia empat bulan warga Bendorejo Kec Pogalan Kab Trenggalek. Angga sudah pulang karena kondisinya sudah lebih baik. Sementara Ayesa masih dalam perawatan dengan kondisi yang berangsur-angsur membaik.

Menurut keterangan dokter penjaga ruangan balita gizi buruk, Lilik Rahayu,  selain berat badan dibawah normal balita Tasya mengalami gangguan pada saluran pencernakannya. Selain itu  metabolisme  tubuhnya tidak berjalan normal. Bayi yang terlahir prematur itu  juga mengalami infeksi saluran pernafasan. Kondisi abnormal ini diperparah dengan minimnya kadar gizi yang  dibutuhkan tubuhnya.

"Secara klinis perutnya tampak membuncit.  Berat badannya  dibawah normal akibat kandungan gizi yang minim. Balita ini mengalami cacat bawaan. Penyebab kematianya adalah gagal nafas. Tasya meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WIB, "ujarnya kepada wartawan, Minggu (2/3/2008).

Balita Tasya masuk ruang instalasi dahlia RSUD dr Soedomo sejak Kamis (28/3) setelah dirujuk dari puskesmas Pogalan. Pada saat pertama kali menjalani opname, berat badan Tasya ketika ditimbang sekitar 3,8 kilogram dan panjang sekitar 65 cm. Menurut Lilik,  semestinya, bayi seusianya memiliki berat badan normal sekitar 7 kg.

Dalam masa perawatan yang baru sebentar itu,  berat badan Tasya mengalami kenaikan sekitar 1 ons. "Kita sudah berusaha. Namun Tuhan memang berkehendak lain, "ujarnya.

Seperti diketahui dari RSUD dr Soedomo, jenazah balita Tasya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Ngadirenggo Kec Pogalan. Pihak keluarga terlihat tabah menghadapi cobaan itu. Orang tua balita Tasya bukan kategori berada. Namun bukan golongan masyarakat yang terlalu miskin. Rusdi, ayah balita Tasya bermata pencaharian sebagai peternak kambing milik orang lain yang hidupnya tergantung dari bagi hasil penjualan kambing.

Sementara Ny Sulasmi hanyalah ibu rumah tangga biasa yang terkadang untuk membantu penghasilan suami terpaksa menjalani hidup sebagai buruh tani. Menurut Rusdi, sejak lahir putri bungsunya sudah mengalami banyak kelainan.  Sejak keluar dari kandungan yang baru berumur tujuh bulan, sekujur tubuh Tasya terbalut cairan lemak (gajih) dalam jumlah yang tebal.

"Sejak lahir terus nangis dan susah makan. Anak ini hanya minum terus bisanya. Sementara  dari mulutnya terus keluar cairan yang kental, "terangnya.

Keadaan ini memaksa Tasya harus menjalani perawatan intensif setiap minggu sekali ke  puskesmas setempat.

Dari keterangan petugas medis puskesmas, Tasya mengalami kelainan paru-paru yang harus rutin disedot setiap minggunya.  Untuk mempercepat pemulihan seperti balita seusianya, keluarga juga memberikan susu khusus balita gizi buruk, termasuk mendapat bantuan dari puskesmas.      

Rusdi mengatakan, meski berlapang dada atas musibah yang menimpanya, dirinya sempat heran dengan kematian yang menimpa buah hatinya. Sebab ketika masih dirawat di puskesmas kondisinya sudah lebih baik dengan berat badan yang terus merangkak naik.

"Saya tidak tahu kenapa justru ketika dirawat di rumah sakit  anak saya meninggal dunia, "paparnya dengan nada sedih.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Trenggalek dr Ubaidillah ketika dikonfirmasi soal gizi buruk mengakui jumlah balita pengidap gizi buruk di Trenggalek cukup tinggi. Menurut dia pada tahun 2007 lalu, kasus gizi buruk  di wilayahnya mencapai 575 balita.

Dan setelah mendapat penanganan, jumlah penderita yang tersisa pada tahun 2008 ini  sebanyak 200 balita. "Jumlah balita gizi buruk yang ada sekarang merupakan sisa dari tahun 2007 yang telah kita tangani, "terangnya.

Untuk penangananya Ubaidillah mengatakan dengan  mengintensifkan posyandu yang tersebar di Trenggalek.  Dinkes  menghimbau para orang tua yang memiliki balita  untuk menimbangkan secara rutin termasuk memberikan bantuan asupan makanan (gizi).

"Namun masalahnya tidak semua yang datang ke posyandu. Dan hal ini merupakan kendala kami yang akan terus kita cari solusinya, "ujarnya.

(Syukri Rahmatullah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya