JAKARTA - Partai politik diminta untuk mempertimbangkan kembali pencalonan kader-kader mereka yang ada di DPR RI saat ini sebagai calon legislatif pada pemilu 2009 mendatang. Hal itu karena, mayoritas anggota DPR RI saat ini banyak melakukan pelbagai penyimpangan.
"Mayoritas anggota parlemen tidak pantas dipilih kembali karena menerima suap, melakukan korupsi dan menghamburkan-hamburkan uang negara dengan melakukan perjalanan ke luar negeri," kata Teten Masduki kepada okezone seusai acara deklarasi Gerakan Nasional Jangan Pilih Politisi Busuk di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/5/2008).
Dikatakan Teten, jika partai politik tidak segera melakukan pembenahan penjaringan kader yang akan ditampilkan, baik itu menjadi calon anggota legislatif maupun pemimpin kepala daerah, bukan tidak mungkin para pemilih juga akan memberikan hukuman kepada partai politik.
"Ya, itu sudah pasti. Rakyat juga akan memberikan hukuman kepada partai politik jika mereka tidak segera melakukan perubahan," katanya.
Menurut Teten, kalahnya calon-calon incumbent seperti pada Pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara beberapa waktu lalu dapat dijadikan contoh konkrit "hukuman" yang diberikan rakyat kepada para calon pemimpin daerah.
"Kita lihat saja juga dalam pilkada-pilkada yang lalu banyak calon incumbent yang kalah. Itu artinya, para pemilih sudah sadar betul dengan pilihan mereka," katanya.
Selain itu juga, partai politik juga harus jeli "membaca" setiap fenomena politik yang terjadi pada setiap pemilihan kepala daerah.
"Meningkatnya jumlah golput dalam setiap pemilihan kepala daerah dapat dilihat sebagai sebuah ketidakpercayaan rakyat kepada partai politik dan calon pemimpin daerah yang diajukan partai politik," katanya.
Teten meyakini, pelbagai kasus yang menimpa anggota DPR RI, yang diantaranya seperti kasus suap alih fungsi lahan yang menimpa anggota Fraksi PPP Al Amin Nur Nasution dan suap aliran dana BI yang menimpa anggota Fraksi Partai Golkar Hamka Yamdu, tidak dilakukan sendiri.
"Fraksi-fraksi juga terlibat," katanya dengan yakin.
(Hariyanto Kurniawan)