SUKABUMI - Sebanyak 500 warga Kota Sukabumi yang tergabung dalam Forum Rakyat Miskin Bersatu (FRMB) menyegel gedung DPRD setempat. Mereka kecewa karena tidak dibantu menghadapi kelangkaan minyak tanah.
Aksi penyegelan gedung DPRD ini dilakukan warga dengan cara menempelkan surat aspirasi di setiap pintu masuk ruang fraksi dan komisi. Selain itu, massa juga memasang beberapa jerigen minyak tanah dalam untaian tali sepanjang dua meter yang dibentangkan pada pintu masuk utama gedung.
Selain menyegel, sejumlah demonstran juga menyisir setiap ruang kerja di dalam gedung DPRD guna mencari para anggota DPRD yang hampir seluruhnya tengah melakukan studi banding ke luar daerah.
"Kami kecewa, para wakil rakyat hanya bisa membangun gedung DPRD baru dengan anggaran yang besar. Sementara kinerjanya nihil. Terbukti, saat ini masyarakat ingin mengadukan nasibnya, mereka malah pergi ke luar daerah dan membiarkan gedung DPRD kosong," papar orator FRMB Yudi Mulyadi di Sukabumi, Kamis (28/8/2008).
Sebelum menyegel gedung dewan, para pengunjukrasa juga berorasi di areal parkir Balaikota yang terletak 100 meter dari lokasi gedung DPRD. Keberadaan mereka sempat mengganggu aktifitas kerja para PNS di lingkungan balaikota. Betapa tidak, para pengunjukrasa ini bukan hanya berorasi dengan menggunakan pengeras suara saja, tapi juga berusaha meringsek masuk ke lingkungan perkantoran dari pintu masuk utara.
Sejumlah kecaman yang dituangkan para pengunjukrasa melalui spanduk dan poster, mewarnai jalannya aksi unjukrasa. "Percuma saja kami datang ke balaikota, tidak ada satu pun pejabat yang mau menghadapi kami. Ini mencerminkan bahwa pemerintah daerah tidak berpihak kepada masyarakat," ujar Yudi.
Menurut pengakuan Koordinator FRMB Sukabumi Tatan Kustandi sejak bergulirnya rencana program konversi minyak tanah ke gas elpiji, masyarakat Kota Sukabumi mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah. Meski pun ada, harga jualnya telah melambung mencapai Rp5.000 per liter.
Kelangkaan minyak tanah ini telah berlangsung sejak lebih dari sepekan. Karena kesulitan mendapatkan, sebagian besar warga yang bermukim di perbatasan kota memanfaatkan kayu sebagai pengganti minyak tanah.
Kondisi kelangkaan minyak tanah ini sepertinya dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah daerah maupaun wakil rakyat. Tidak ada satu pun upaya dari mereka untuk mengatasi permasalahan ini. Apalagi saat ini menjelang pelaksanaan bulan suci Ramadhan, warga semakin panik," ungkapnya.
(Muhammad Saifullah )