SRAGEN - Bencana banjir yang melanda di sebagian besar wilayah Kabupaten Sragen di penghujung tahun 2007 lalu menjadi pelajaran yang berharga bagi Pemkab Sragen.
Menghadapi musim penghujan tahun ini, Pemkab telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi bila bencana banjir kembali melanda. Setidaknya 12 perahu ponton telah disiagakan di sejumlah titikâ€"titik yang dinilai rawan bencana banjir.
Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Kesbangpolinmas Sragen melalui Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Penanganan dan Penanggulangan Bencana, Drs Taat Setiya Boedhy.
Satu perahu ponton terbuat dari 8 tong/drum dan bambu yang diikat menjadi satu. Bentuk perahu disesuaikan dengan kondisi jalan desa. Ada yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang. Sewaktu bencana banjir tahun lalu, perahu ponton ini telah terbukti manfaatnya untuk mengevakusai warga korban banjir.
Drs Taat Setiya Boedhy menerangkan, titikâ€"titik yang dinilai rawan bencana bnjir tersebut meliputi desa Tangkil, Pandak, Tenggak, Plupuh dan lain sebagianya. Sebagian besar daerah rawan bencana banjir terletak di bantaran sungai bengawan Solo di sisi sebelah utara.
Beberapa waktu lalu Pemkab telah melakukan pendataan ulang daerah rawan bencana dan pendataan ulang peralatan evakuasi korban bencana banjir. Pemkab juga telah melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Bengawan Solo dan seluruh Satuan Pelaksanaan (Satlak) bencana alam di tingkat kecamatan, melalui Rapat Koordinasi daerah rawan bencana banjir yang diselenggarakan oleh Satlak bencana Alam Kabupaten Sragen.
Hasil rakor tersebut antara lain, Satlak Bencana Alam Kabupatena dan Kecamatan akan siaga 24 jam dalam menghadapi musim penghujan yang bisa berpotensi terjadinya musibah bencana banjir. Selain itu, tambah Drs. Taat Setiya Boedhy, pihaknya telah menyiapkan skenario evakuasi korban bencana, antara lain dengan menentukan jalan-jalan atau rute evakuasi, posko-posko bencana banjir, gudang logistik dan dapur umum. Semua tempat yang telah ditentukan tersebut di pilih yang tidak begitu jauh dari daerah rawan bencana namun mudah untuk dijangkau.
Dia menegaskan yang sulit diantisipasi adalah datangnya air banjir. Apabila di tiga Kabupaten yakni Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, dan Sragen hujan lebat secara bersamaan, bisa dimungkinkan akan terjadi banjir di daerah Sragen. Tapi dimungkinkan juga bila hanya Kabupaten Wonogiri saja yang terjadi hujan lebat dan pintu air Waduk Gajah Mungkur dibuka akan terjadi banjir kiriman ke daerah Sragen.
Oleh karenanya, Satlak bencana Alam Sragen dalam menghadapi musim hujan ini terus melakukan berkoordinasi dengan PSDA Bengawan Solo dan Penanggung Jawab Waduk Gajah Mungkur.
N Hart
Bagian Humas Setda Sragen, Kota Sragen
081329349696
(Nurfajri Budi Nugroho)