JAKARTA - Latihan gabungan (Latgab) TNI-Polri yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin merupakan tindakan yang sia-sia. Sebab selain tidak sesuai dengan realitas yang ada, juga menghabiskan biaya besar.
Demikian dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada okezone, Minggu (14/3/2010).
Pada latihan gabungan tersebut, hal aneh yang disorot oleh Neta adalah adanya drama penyanderaan. Padahal, dalam setiap aksi terorisme, tidak pernah ada pola penyanderaan, melainkan teror bom.
“Latihan ini aneh. Teror di Indonesia nggak berpola penyanderaan tapi berpola bom yang sifatnya mendadak. Teror bom nggak pernah pakai sandera. Kalau sandera, biasanya dikaitkan dengan tuntutan, sementara aksi teror selama ini nggak pernah ajukan tuntutan,” tandasnya.
Dengan demikian, menurut Neta, latihan tersebut tidak sesuai dengan realitas yang terjadi.
“Jadi latihan itu nggak nyambung dengan tantangan dan ancaman yang ada. Karena latihan itu untuk antisipasi penyanderaan. IPW menyesalkan pola latihan Polri yang tidak nyambung dan menghabiskan biaya besar,” pungkasnya.
TNI-Polri menggelar latihan gabungan (Latgab) pada Sabtu 13 Maret di Hotel Borobudur, Jakarta.
Tujuan dari Latgab ini adalah dalam rangka upaya penanggulangan aksi terorisme. Latgab tersebut berisi, rangkaian simulasi personel gabungan TNI-Polri yang tengah mengepung gerombolan teroris yang berada di Hotel Borobudur.
Menurut Kapendam Jaya TNI Letkol Ruminto, tujuan utama dari Latgab ini untuk melatih kemampuan para prajurit dalam menangani kejahatan terorisme yang belakangan marak terjadi di Indonesia.
(Lusi Catur Mahgriefie)