Musim Giling Tebu, Ritual Kirab Tebu Temanten Digelar

Daru Waskita, Jurnalis
Sabtu 24 April 2010 20:12 WIB
Ritual musim panen tebu, kirab tebu temanten. (Foto: Daru Waskita/TrijayaFM)
Share :

YOGYAKARTA - Menjelang musim giling tebu tahun 2010 ini yang akan dimulai pada tanggal 12 Mei mendatang, PG/PS Madukismo, Yogyakarta menggelar acara ritual kirab Tebu Temanten. Acara ini merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak diresmikannya PG/PS Madukismo oleh Presiden RI Seokarno pada tahun 1958.

Ritual yang digelar menjelang setiap musim giling di PG/PS Madukismo mendapatkan perhatian ribuan dari masyarakat sekitar PG Madukismo dan sekitarnya yang berdesak-desakan untuk melihat tebu temanten yang dibawa dengan kereta kuda dan dua kuda serta seorang kusir.

Judiman (63), tokoh masyarakat setempat sekaligus mantan pegawai PG Madukismo menceritakan, kirab tebu temanten ini merupakan prosesi awal penggilingan tebu. Disebut Kirab tebu manten, karena tebu yang akan digiling pertama kali di mesin penggilingan dikirab terlebih dahulu atau dibawa dengan berjalan kaki mulai dari Rumah Besaran yaitu rumah Bapak Administratur PG menuju ke Kantor Tebang Angkut kemudian ke Kantor SPUK ( Serikat Pekerja Unit Kerja ).

Kirab tebu ini juga disertai dengan sepasang Boneka Temanten. Untuk tahun 2010 ini, tebu temanten dinamai Kyai Tumpak dan Nyai Pahing karena bertepatan dengan hari Sabtu Pahing.

"Sepasang boneka temanten ini merupakan simbol adanya tebu lanang atau tebu yang berasal dari daerah lain, sedangkan tebu wadon berasal dari PG sendiri atau tebu yang asli ditanam oleh PG," katanya, Sabtu (24/4/2010).

Menurutnya tahap paling awal dalam prosesi, adalah  melakukan penebangan tebu yang akan digunakan untuk kirab, terlebih dahulu dilaksanakan syukuran atau selamatan di kebun tebu yang telah ditunjuk atau ditentukan oleh PG.

Syukuran atau selamatan ini dilakukan seperti syukuran atau selamatan yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu menggunakan nasi tumpeng dan perlengkapan lainnya. Syukuran ini bertujuan agar prosesi kirab tebu manten ini berjalan dengan lancar mulai dari awal tebang, angkut, penggilingan sampai dengan akhir penggilingan nanti.

"Yang mengikuti syukuran atau selamatan ini adalah para pekerja di kebun tebu tersebut dan beberapa staf atau karyawan yang merupakan utusan dari PG," terangnya.

Tebu yang akan ditebang dan yang akan digunakan dalam prosesi kirab, melalui beberapa tahapan mulai dari mendata kebun, seleksi varitas, dan  tingkat kemasakan tebu. Dipilih  tebu yang betul-betul layak untuk digiling agar dicapai rendemen atau hasil gula setinggi-tingginya.

Pada saat melakukan penebangan tebu, dihadiri para staf karyawan PG di antaranya adalah Sinder Kebun Kepala (SKK) Rayon Wilayah, SKK Tebang dan Angkut, Sinder Kebun Wilayah (SKW), Pembina Penyuluh Lapangan (PPL), dan para undangan beberapa Perangkat desa serta wakil dari para petani. Secara simbolis dilakukan penyerahan sabit dari SKW yang ditunjuk, kepada Sinder Kebun Kepala Tebang Angkut (SKK TA), kemudian baru dilakukan penebangan.

"Tebu yang telah ditebang, diangkut dan dihias sedemikian rupa di Kantor Tebang Angkut," paparnya.

Lebih lanjut Judiman menyatakan, untuk penyembelihan dua hewan kerbau jantan dan betina, dilakukan di halaman samping rumah Bapak Administratur. Selesai penyembelihan daging langsung dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di sekitar pabrik gula.
Kemudian 2 ( dua ) kepala kerbau dihias, 1 ( satu ) kepala diletakkan disebelah mesin  gilingan dan satunya lagi diletakkan dimesin masakan. Kerbau dibiarkan 2 ( hari ) ditempat tersebut.

Sedangkan untuk kirab tebu temanten, kata Judiman dimulai pukul 15.30 WIB dari rumah Bapak Administratur tebu manten diarak menuju kantor tebang angkut kemudian diserahkan kepada SKK TA. Dari kantor tebang angkut tebu manten diarak menuju kantor SPUK diiringi barisan pembawa tebu manten, semua karyawan bagian tebang angkut, barisan reog, dan traktor hias.

Dari kantor SPUK diarak menuju ke kantor Akuntansi dan Umum (AkU) diterima oleh Bapak kepala bagian AkU dilanjutkan diserahkan kepada Bapak kepala bagian tanaman. Iringan tebu manten berhenti sebentar dan dilanjutkan diserahkan kepada Bapak Administratur.

"Terakhir tebu manten diserahkan kepada kepala bagian instalasi dan kepala bagian pengolahan yang kemudian diletakkan di meja gilingan bersamaan dengan sesaji berupa nira atau perasan tebu, kembang setaman, telur, dan beras kuning. Setelah semua siap menunggu sirine  isyarat dibunyikan kemudian boneka, tebu manten, dan sesaji digiling bersamaan," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur PT Madubaru, Rahmad Edi Cahyono mengatakan untuk musim giling tahun ini pihaknya akan menggiling 535.147 ton tebu dengan luas lahan mencapai 4972 hektar yang tersebur di 4 Kabupaten di Provinsi DIY dan 4 Kabupaten di wilayah provinsi Jawa Tengah seperti Sragen, Purworejo, Magelang, Temanggung dan Kebumen.

"Dengan 535.147 ton tebu yang akan digiling pada tahun ini diperkirakan akan menghasilkan gula sebanyak 40 ribu ton. Masa giling sendiri akan berlangsung selama 162 hari ditambah libur hari raya selama 10 hari sehingga total masa gilingnya mencapai 172 hari," katanya.

Dengan menghasilkan gula 40 ribu ton untuk sekali musim giling, Edi menyatakan produksi PG Madukismo sendiri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat DIY dalam satu tahunnya yang mencapai 45 ribu ton.

"Langkah ke depan kita akan meningkatkan luas lahan tebu dan juga perbaikan peralatan mesin penggilingan tebu sehingga akan menghasilkan gula yang lebih banyak dengan kualitas lebih baik," tandasnya.

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya