Apa Kata Aktivis Soal Demo Bayaran?

Rizka Diputra, Jurnalis
Selasa 02 November 2010 08:24 WIB
Ilustrasi demo (Foto: okezone)
Share :

JAKARTA - Makelar demo dan pendemo bayaran memang sudah menjadi rahasia umum, bahkan seakan sudah lazim terdengar. Namun di antara mereka masih ada loh para pendemo yang murni memperjuangan aspirasi rakyat.

Adalah Dili (32), salah satu pendemo yang mengaku murni beraksi untuk mengkritik kinerja pemerintah tanpa iming-iming. Dili merupakan mantan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muhammadiyah (KAMMU). Dia mengaku pernah mengerahkan sekira dua ribu orang yang berasal dari kalangan aktivis dan mahasiswa.

Aksi itu dilakukannya pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia menegaskan, aksinya tersebut murni karena idealisme kebangsaan yang menuntut peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Kami sepakat pemerintah Gus Dur pada masanya itu sama sekali tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai kepala negara dan pemerintahan yang menyejahterakan rakyat. Tidak ada program-programnya yang berjalan,” ujar Dili saat berbincang dengan okezone, belum lama ini.

Dia menuturkan, aksi yang dilakukannya saat itu murni swadaya dengan sesama aktivis mahasiswa yang memiliki visi dan misi yang sama. “Bebas dari politik uang atau bayaran. Tapi murni perjuangan,” imbuhnya.

Saat itu, lanjut dia, massa berkumpul di Kampus Muhammadiyah, Ciputat pada pagi hari. Sekira 20 bus dan motor dipersiapkan sebagai kendaraan pengangkut massa.

“Kami bergerak menuju gedung DPR untuk mendesak sidang istimewa waktu itu. Namun, waktu rusuh kami dipukul mundur sampai ke UKI,” kenangnya.

Mengenai mekanisme penggalangan massa itu, dia mengaku hal itu dilakukannya berdasarkan hasil rembuk para mahasiswa yang tidak puas dengan kinerja pemerintahan Gus Dur.

“Kesepakatan bersama yang tergalang atas ketidakpuasan kami dengan kinerja Gus Dur. Sehingga kami lakukan aksi longmarch protes dengan style (gaya) kepemimpinan yang tidak berwibawa itu,” kenangnya.

Ketidakwibawaan Gus Dur, lanjut dia, terletak dari perilakunya yang mengumpulkan semua keluarga besarnya untuk tinggal di Istana sewaktu menjabat sebagai Presiden.

“Kita lihat juga pada saat dia (Gus Dur) keluar Istana dengan mengenakan celana pendek. Itu kan memalukan,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai perangkat dan atribut demo yang digunakan, dia mengaku semua peralatan demo adalah swadaya urunan dari rekannya sesame mahasiswa tanpa menyebutkan berapa biaya yang telah dihabiskan untuk persiapan tersebut.

Mulai dari pengeras suara dan spanduk-spanduk dipersiapkan bersama-sama. Inilah yang disebut mereka sebagai perjuangan sesungguhnya. Dili pun memberi sedikit tips bahwa ini bisa menjadi salah satu ciri yang membedakan demo murni aspirasi rakyat dan karena idealisme dengan demo bayaran.

“Intinya semua berharap dengan kehidupan yang lebih baik, pemerataan kesejahteraan dan pembangunan. Kebijakan pemerintah haruslah berpihak kepada rakyat bukannya kepentingan asing,” terang pria berkulit putih ini.

Lantas apa tanggapannya tentang makelar demo maupun pendemo bayaran? Dili mengaku miris dengan hal itu di mana muncul karena faktor keterpurukan ekonomi.

“Saya miris melihatnya, mereka melakukan itu tentu karena uang untuk cari makan. Di zaman yang semakin susah ini kelompok seperti itu tak dapat dipungkiri keberadaannya. Namun, bagi kita yang terpenting adalah kembali kepada hati nurani apakah kita rela menggadai idealisme atau pemikiran kita hanya dengan segepok uang dari pemilik modal yang memiliki kepentingan di balik itu. Sangat memprihatinkan bagi saya,” tandasnya.

(Lusi Catur Mahgriefie)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya