ISLAMABAD - Melonjaknya harga kebutuhan pokok setiap menjelang hari besar ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Pakistan. Sebagian besar warga Muslim Pakistan tidak dapat merayakan Idul Adha sebagaimana mestinya karena tingginya harga kebutuhan.
Dua bulan setelah bencana banjir yang menyebabkan banyaknya warga yang tewas, dampak banjir itu terus terasa hingga kini. Banjir ternyata menyebabkan hewan yang biasa dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha, turut tersapu oleh air.
Hari besar umat Islam tersebut dirayakan oleh warga Pakistan dari 17 hingga 19 November. Di Pakistan Idul Adha atau Hari Raya Kurban dirayakan layaknya seperti warga Muslim di belahan dunia lain. Mereka menyembelih kambing, sapi dan domba yang dagingnya akan dibagikan ke warga miskin.
Tetapi harga hewan kurban meningkat tajam hingga mencapai harga 21.000 rupee atau sekira Rp2,2 juta (Rp104 per rupee). Harga ini dianggap terlalu tinggi bagi warga Pakistan yang saat ini berjuang usai dilanda bencana banjir hebat.
Sementara harga sapi diperkirakan mencapai harga USD1.100 atau sekira Rp9,8 juta (Rp8.965 per USD). Dengan rata-rata pendapatan warga yang mencapai USD80 atau sekira RP770 ribu untuk buruh, serta USD230 atau sekira Rp2 juta untuk karyawan menengah tentu sulit untuk melakukan tradisi di tengah Idul Adha di Pakistan.
"Saya kira hampir setengah dari Rakyat Pakistan tidak dapat berkurban dalam hari raya kali ini," ungkap seorang warga seperti dikutip AFP, Selasa (16/11/2010).
"Banyak ternak yang mati saat banjir mendera, ini yang menyebabkan harga ternak melonjak tajam," cetus penjual kambing Hijab Khan.
Otoritas Penanggulangan Bencana Pakistan sendiri menyebutkan jika sekira 300 ribu ternak mati dalam banjir dahsyat yang melanda negara tetangga India itu, dua bulan lalu.
(Fajar Nugraha)