SURABAYA- Perbedaan budaya atau kebiasaan antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi salah satu pemicu tingginya angka kekerasan terhadap para tenaga kerja wanita (TKW).
Salah satu kebiasaan yang bisa membawa TKW kepada malapetaka adalah senyuman. Di Indonesia, senyum menunjukkan keramahan, namun di Arab Saudi bisa diartikan berbeda.
“Seorang TKW di Arab Saudi gara-gara senyum saja bisa mengakibatkan malapetaka,” ujar aktivis Migrant Institute Suprapti kepada okezone, Rabu (29/6/2011).
Dia menceritakan, senyum seorang TKW bisa diartikan berbeda oleh majikan. Para pengguna jasa (majikan) perempuan akan menganggap senyum para TKW itu sebagai menggoda suami mereka. Ini bisa menjadi alasan bagi para pengguna jasa perempuan untuk menyakiti para TKW.
Sementara para pengguna jasa TKW laki-laki menganggap senyuman itu sebagai bentuk rasa suka kepada mereka.
“Kadang yang laki-laki ini menganggap senyumnya itu pertanda genit. Makanya tidak heran jika banyak pemerkosaan kepada TKW,” tambah perempuan yang pernah menjadi TKW di Arab Saudi ini.
Lebih jauh Suprapti mempertanyakan kinerja Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sebab, sebagian besar TKI di Arab Saudi, adalah perempuan. Kasus kekerasan juga kebanyakan diderita para TKW.
Suprapti menjelaskan, tanggung jawab memberdayakan buruh migrant bukan saja tanggung jawab Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Sekira 60 persen buruh migran dari Indonesia adalah perempuan. Maka Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak harus menunjukkan perannya.
“Sekarang apa saja kerja kementerian itu sampai begitu banyak perempuan yang harus terusir dari negerinya sendiri,” cetus perempuan asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini.
(Anton Suhartono)