AJIBATA - Keindahan Danau Toba memang sudah tersohor ke seluruh dunia. Panorama alam sekelingnya yakni Bukit Barisan dan jejeran hutan pinus, semakin menambah keeksotisan danau yang diapit oleh enam kabupaten ini.
Danau ini memang tak terukur dalamnya. Namun siapa sangka, keberadaan ikan pora-pora di danau nan indah ini mampu memenuhi kebutuhan hidup para nelayan pora-pora di kawasan sekitar Danau Toba. Bahkan ikan tersebut sampai dikirim ke daerah lain di luar Sumatera Utara, seperti Batam dan Padang.
Konon katanya, orang pertama yang menabur benih ikan pora-pora di Danau Toba adalah Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Indonesia pada 2001 silam. Ikan ini berkembang biak sangat cepat, dan kini menjadi habitat terbesar di Danau Toba.
Salah seorang nelayan pora-pora di Kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir mengatakan, perhari dirinya bisa memperoleh 40 kilogram ikan pora-pora.
Ikan yang didapatnya dari menjala dan memasang jaring di Danau Toba, kemudian dijualnya kepada seorang agen yang tak jauh dari kediamannya seharga Rp4 ribu perkilogramnya. Uang hasil penjualan ikan pora-pora itu lah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Ikan pora-pora tidak hanya berkembang di Danau Toba saja, namun sejumlah anak sungai yang bermuara di Danau Toba juga terdapat banyak ikan pora-pora.
"Ikan ini juga banyak berkembang biak di sungai-sungai yang bermuara di Danau Toba," kata nelayan pora-pora lainnya bermarga Siagian di Ajibata.
Bagi Siagian, ikan pora-pora adalah sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Meski demikian, dirinya mengakui para nelayan tidak bisa menjaga kelestarian ikan pora-pora di Danau Toba.
"Sebenarnya kalau menjala gini yang kecil-kecil pun terikut, tapi mau bagaimana lagi namanya kita mencari makan," kilahnya.
Ikan pora-pora memang tergolong ikan yang gampang mati apabila tidak berada di air. Apalagi, jika ikan tersebut tidak langsung diberi es pendingin, maka cepat sekali membusuk.
Namun, dengan ukuran tubuh yang terbilang tidak besar, ikan pora-pora dapat berkembang biak secara cepat.
"Tapi ikan pora-pora ini perkembang biakannya cukup cepat. Yang masih kecil-kecil gini aja sudah bertelur. Ukuran paling besar ikan ini bisalah satu kilogram itu terdiri dari delapan ikan. Itu udah besar kali," katanya.
Para nelayan pora-pora di Ajibata, biasanya mencari ikan mulai dari petang hingga subuh keesokan harinya. "Biasanya nelayan di sini mencarinya dari sore sampe besok pagi. Soalnya ikan ini kalau ada sinar lampu pasti mendekat. Jadi jaring kita bisa penuh, jala juga begitu," terangnya.
Namun, tetap saja ada pasang surut nelayan memperolah ikan pora-pora ini. "Biasanya kalau musim kering, ikan ini agak susah didapat. Biasanya itu terjadi di bulan Maret sampai September. Tapi begitu musim penghujan datang pendapatan nelayan melimpah. Satu harinya bisa dapat seratus kilogram," paparnya.
Selain menjual ikan pora-pora yang masih segar, warga di Ajibata juga menjadikan ikan pora-pora sebagai ikan asin. Dengan membuang seluruh isi perut, kemudian merendam dengan air garam, maka ikan pora-pora tersebut di jemur di bawah terik matahari.
"Kalau sudah diasinkan, rasanya seperti kerupuk. Keriuk-keriuk. Harganya juga lebih mahal dari yang masih segar. Tapi pengerjaannya cukup lama. Harus dipesiangi (membuang isi dalam perut), digarami dan dijemur," sambung Siagian.
Sementara itu, menurut agen ikan pora-pora di Ajibata, ikan yang masuk ke gudangnya dari para nelayan, dikirim ke sejumlah daerah di luar Sumatera Utara. Seperti Padang, Batam, dan Pekan Baru.
"Perharinya kita bisa menyalurkan ikan pora-pora ke luar daerah seberat tiga sampai lima ton. Dibawa melalui jalur laut dan darat," kata pemilik gudang ikan pora-pora bermarga Gultom.
(Taufik Hidayat)