CIREBON - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengkritik susunan kabinet SBY pasca perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II. Menurut anggota Kabinet Gotong Royong era Megawati Soekarno Puteri itu kursi kabinet saat ini lebih banyak diisi oleh orang-orang yang tidak profesional.
"Itu fakta ya, bukan saya tidak berdasarkan fakta. Profesional itu diabaikan, sebagian besar diisi orang politik, bukan profesional," ujar Rokhmin disela-sela peresmian peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit tanpa kelas di kampung nelayan, di Kebang Kilir, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (23/10/2011).
Rokhmin juga mengkritik perihal penambahan wakil menteri di kabinet SBY. Apalagi kata dia, orang-orang yang diangkat banyak memiliki konflik. Tapi hal penting yang diabaikan oleh pemerintah pada penambahan dan pengangkatan wakil menteri itu adalah soal pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
"Kalau kita berpikir logis, wakil menteri dua tahun ini banyak konflik, selain juga pemborosan biaya," kata dia.
Lanjut Rokhmin, dia tidak mempersoalkan tentang menteri yang berlatar belakang politisi, namun kata dia hal yang tak boleh diabaikan tentang persoalaan kapabilitas pada bidang yang sedang dilakoninya.
"Gak apa-apa dari partai. Tapi menurut hadist Buhkari mengatakan sesuatu urusan yang tidak diserahkan pada ahlinya tunggu pada kehancuran. Jadinya tidak amanah," paparnya.
Dia mencontohkan beberapa kementerian yang menurut dia ditangani oleh orang-orang yang tidak profesional.
"Contohnya? Misalnya ESDM, sekarang kan heboh didemo. Perhubungan, bukan profesional. Rata-rata kementerian teknis ini bukan ahlinya," ucapnya.
Bagi dia, saat ini pemerintahan SBY lebih hanya berkutat pada persoalaan pencitraan semata.
"Tidak dihargai. Bahwa pertimbangan politis, nomor satu. Saya sendiri pernah kabinet. Kalau menteri tidak tahu apa yang mau dimanage, gimana mau manage. Pada hemat saya ini lebih banyak pencitraan," tukasnya.
(Ferdinan)