JAKARTA - Pengamat Politik Charta Politika, Arya Fernandez menilai dipercepatnya waktu pelaksaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) untuk menentukan calon presiden (capres) dari Partai Golkar menunjukan bahwa Aburizal Bakrie khawatir dukungan di tingkat DPD I dan II Golkar akan berubah ke calon lainnya. Nama Jusuf Kalla (JK) dan Akbar Tandjung disebut-sebut akan meramaikan bursa capres dari partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Ical tentu khawatir kalau dukungan yang solid terus mengambang (tidak dipercepat) akan mengalihkan dukungan, makanya percepatan itu bagian dari usaha untuk menjaga soliditas. Kalau lama, dia akan khawatir pengalihan dukungan," ujar Arya saat dihubungi okezone, Kamis (19/4/2012).
Kekhawatiran Ical, sambung Arya, tak hanya dalam Rapimnas melaikan juga terlihat dalam aksi Golkar yang meminta para kadernya di DPR untuk membeli tas berisi sembako dan bergambar Ical seharga Rp10 juta. Kendati sah-sah saja melakukan upaya tersebut, Arya menilai hal itu salah satu cara untuk meningkatkan popularitas dan kenaikan elektabilitas Ical sendiri.
"Saya kira sah-sah saja, itu usaha Ical mendongkrak popularitas dia ke publik menjelang pemilu 2014, yang kedua untuk menjaga soliditas ditingkat anggota dewan," tuturnya.
Sebelumnya, Politikus senior Partai Golkar, Zainal Bintang mengatakan bahwa muculnya polemik di internal Golkar terkait nama yang akan diusung menjadi capres lantaran rencana pelaksanaan Rapimnas dipercepat. Menurut Zainal, gagasan tersebut terkesan sebagai upaya percepatan pengukuhan Ical sebagai capres. Zainal berpendapat bahwa percepatan tersebut seolah telah merubah tradisi di dalam Golkar, dimana pelaksanaan Rapimnas selalu bersamaan dengan ulang tahun partai. "Itu merupakan perubahan tradisi Rapimnas yang biasa dilakukan menjelang ulang tahun di Oktober. Itu saja persoalannya," tegasnya.
Ketua DPP Partai Golkar, Hajriyanto Tohari menyarankan agar Ical berkomunikasi dengan beberapa tokoh penting di Golkar terkait pencalonannya sebagai capres pada Pemilu 2014 mendatang.
"Sekarang simple saja, ingin dapat dukungan maksimal atau tidak. Kalau mau, libatkan semua tokoh Golkar untuk diajak bicara. Baik soal Rapimnas maupun mekanisme penentuan Capres," jelasnya.
(Susi Fatimah)