Enggel mon sao curito (dengarlah sebuah kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam sebuah desa)
Uwi lah da sesewan (begitulah dituturkan)
Unen ne alek linon (Diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo mawi (secara tiba-tiba)
Angalinon ne mali (Jika gempanya kuat)
uwek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me singa tenggi (dataran tinggi agar selamat)
Ede smong kahanne (Itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (Ingatlah ini semua)
Pesan da navi da (pesan dan nasihatnya)
Rabu (11/4/2012) lalu, tidak hanya kita di Indonesia, bahkan masyarakat dunia pun dibuat cemas oleh dua gempa besar dengan kekuatan 8.5 pada SR yang mengguncang Aceh dan disusul beberapa gempa bawah laut berukuran 8,2 SR, ungkap US Geological Survey. Gempa besar itu diketahui berepisentrum pada kedalaman 10 kilometer atau 364 kilometer barat daya Kabupaten Simeulue (baca; Simelu).
India merespon dengan segera mengeluarkan peringatan level awas. Bahkan militer India bahkan sempat menyiagakan armada perangnya tak lama setelah gempa kuat itu. Seluruh negara ASEAN bersiaga mengantisipasi dampak gempa bumi di Aceh dari kemungkinan gelombang tsunami. Negara-negara ASEAN mengetahui informasi gempa bumi di Aceh dari AHA Center. AHA Center adalah pusat koordinasi negara-negara ASEAN untuk bantuan kemanusiaan bagi penanganan bencana (Antara, 11/4/2012).
Negara Ring of Fire
Ada fakta yang sangat menarik perhatian dari gempa besar yang berpusat di daerah Simeulue itu; Simelue aman dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Hal ini persis seperti kondisi pasca gempa dan tsunami 2004 silam; hanya enam orang yang tewas. Padahal di daerah lain, gempa dengan kekuatan sebesar itu sudah memamkan koraban yang tidak sedikit. Apa gerangan yang membuat demikian?
Sebelum menjawab pertanyaan krusial itu, perlu diingatkan disini bahwa Indonesia berada dalam ring of fire (cincin api) bencana. Menurut Septian Suhandono (2010), Indonesia merupakan negara yang sarat akan potensi bencana yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik. Ini merupakan dampak dari wilayah Indonesia yang terletak di pertemuan dua jalur pegunungan aktif terpanjang di dunia (Wardhana, 1998). Bagian Indonesia barat dilalui oleh mediteran ring of fire -sirkum pegunungan mediterania, yang memanjang dari laut mediteran diropa. Sedangkan di bagian timur merupakan ujung dari pacific ring of fire-sirkum api pasifik, yang berasal dari pegunungan Rocky di benua Amerika (Nungrat, 2001).
Kedua sirkum ini mengakibatkan munculnya sederet pegunungan di pesisir pantai dan laut yang sampai saat ini masih berstatus aktif. Tercatat di Indonesia terdapat sekitar 13 % gunung api aktif dari total gunung aktif di dunia. Jumlah ini lebih banyak di banding gunung api di Amerika, Jepang, Perancis, Italia dan negara lain. Saat ini terdapat 500 gunung api di Indonesia. Sebanyak 129 diantaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Kepulauan Banda, Halmahera hingga Sulawesi (Museum Gunung Api Batur, 2009). Selain kedua sirkum tersebut di Indonesia juga terdapat tiga lempeng tektonik yang saling menyusun lempeng bumi Indonesia. Indonesia disusun oleh Lempengurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik (Cahyadi, 1976).
Di samping itu Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya mencapai 81.000 km. Garis pantai Indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Anantasena, 2007). Keberadaan letak Indonesia yang seperti ini ditambah dengan panjangnya garis pantai memberikan potensi besar bagi Indonesia untuk ditimpa bencana alam khususnya Tsunami.
Local Wisdom Simeulue
Kembali ke pertanyaan krusial di atas; mengapa warga Simeulue selamat dari gempa dan tsunami? Armidin Riha (2010) menjelaskan, masyarakat Simeulue menyampaikan peringatan tradisional tsunami melalui ‘tutur’ secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui cerita, nanga-nanga, sikambang dan nandong (seni tradisional Simeulue). Smöng (nama lain dari tsunami dalam bahasa Simeulue), adalah sebuah bentuk pemahaman budaya yang telah mengalami proses pengendapan berpuluh tahun dalam memori kolektif masyarakat Pulau Simeulue. Karena telah menjadi memori kolektif maka smöng telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Simeulue. Potongan syair tentang itu dapat ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak di Pulau Simeulue.
Istilah smöng dikenal masyarakat Simeulue setelah tragedi tsunami pada hari Jumat, 4 Januari 1907. Gempa disertai tsunami dahsyat yang terjadi di wilayah perairan Simeulue masih pada zaman penjajahan Hindia Belanda. Kejadian tsunami ini tercatat dalam buku Belanda S-GRAVENHAGE, MARTINUSNIJHOF, tahun 1916 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ditinjau dari sisi linguistik, terbentuknya kata smöng cukup dekat dengan bunyi yang mendengung saat ombak menyerang bergulung-gulung. Di masyarakat Simeulue, smöng berarti ombak besar yang datang bergulung-gulung yang didahului oleh gempa yang sangat besar. Fenomena yang dikenal masyarakat dunia dengan istilah tsunami. Pemahaman tentang smöng ini tertanam kuat dalam memori masyarakat Simeulue dari anak-anak sampai orang tua.
Kuatnya penanaman smong dalam ingatan masyarakat Simeulue menunjukkan bahwa smöng telah mengalami proses pengendapan yang lama sehingga lambat laun menjadi memori kolektif dalam bentuk sistem nilai masyarakat. Dalam sistem masyarakat Simeulue, penyampaian sebuah pesan sampai tertanam menjadi memori kolektif masyarakat hanya bisa dilakukan melalui media lisan.
Pada saat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu di seluruh wilayah Kabupaten Simeulue lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal adalah 6 jiwa. Masyarakat dunia yang juga mengetahui lemahnya sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera takjub melihat keajaiban yang terjadi di Pulau Simeulue. Hal ini kemudian mendorong masyarakat dunia melalui ISDR (International Strategy for Disaster Reduction) memberikan penghargaan SASAKAWA AWARD kepada masyarakat Kabupaten Simeulue. ISDR adalah lembaga dibawah Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) yang memberikan perhatian pada upaya-upaya masyarakat mengurangi kerusakan dan kerugian akibat bencana.
Pendek kata, smöng yang merupakan tradisi dan kearifan local masyarakat Simeulue terbukti telah menyelamatkan mereka dari tsunami dan juga gempa-gempa besar pasca tsunami delapan tahun silam. Oleh karena itu, Sosialisasi smöng perlu diberikan kepada perangkat desa, masyarakat umum, maupun pelajar di seluruh pelosok negeri. Begitu pula dengan masyarakat, sehingga masyarakat benar-benar paham mengenai konsep smong ini.
Sebab, harus diakui bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai bagaimana ciri-ciri pada alam sekitar saat akan terjadi bencana tsunami. Dengan kemudahan implementasi maka derajat akseptibilitas masyarakat cukup tinggi maka konsep smöng diharapkan dapat secara cepat dipahami oleh masyarakat sehingga dapat dihindari korban jiwa yang sia-sia. Semoga.
Ahmad Arif
Penulis adalah mantan pengurus pusat IMAPA (Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh) Jakarta, tiba di Aceh hari ketiga pasca-tsunami tahun 2004.
(M Budi Santosa)