Secercah Optimistis

Rani Hardjanti, Jurnalis
Kamis 03 Mei 2012 12:54 WIB
Share :

SECARA tidak diduga, tingkat konsumen di Indonesia menduduki nomor tiga di dunia. Indonesia berada di posisi, setelah India dan Arab Saudi.

Hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei Nielsen, ini bisa diartikan positif. Di mana, tingkat optimistis konsumen dalam katergori sangat baik. Indeks konsumen Indonesia kuartal IV-2012 di level 118, naik dibanding kuartal sebelumnya di tahun 2011 di level 117.

Sebanyak 72 persen konsumen Indonesia mengaku kondisi keuangan pribadi mereka baik dalam 12 bulan mendatang. Adapun 14 persen menyatakan akan luar biasa. Sebanyak 68 persen konsumen Indonesia memilih menabung apabila memiliki uang lebih. Selain itu, 29 persen akanmenggunakan uang untuk berlibur, 29 persen membayar tagihan atau pinjaman, 28 persen membeli produk teknologi terbaru, dan 27 persen untuk berinvestasi.

Dari pola tersebut, dapat dilihat bahwa kedasaran konsumen untuk menabung sudah sangat tinggi. Kita tahu, dengan menabung maka kita akan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pengeluaran.

Data yang dipaparkan Nielson sebenarnya sudah terindikasi sejak 2011. Secara matematis, Asia Development Bank (ADB) juga pernah menyatakan, bahwa jumlah orang dengan tingkat ekonomi kelas menengah di Indonesia semakin banyak.

Pun demikian dengan Bank Indonesia (BI). Menurut bank sentral, jumlah orang kaya di Indonesia terus meningkat, bahkan pertumbuhan dalam setahun terakhir tertinggi, jika dibandingkan dengan negara kawasan. 

Baiknya tingkat konsumen di Indonesia ini tidak lepas dari membaiknya kualitas pertumbuhan ekonomi Tanah Air. Ekonomi Indonesia mampu tumbuh pesat di saat Amerika ketar-ketir akan mencatatkan laju yang minus. Bahkan, Indonesia berperan sebagai mesin penggerak di Asia Pasifik.

Mungkin, pertumbuhan ekonomi ini sudah mulai menjalar pada tingkat kesejahteraan warga. Namun, perlu digarisbawahi, jangan sampai baiknya kondisi ini berubah karena adanya gejolak ekonomi eksternal.

Ekonomi internal yang kondusif harus tetap dijaga secara konsisten. Karena, bukan tidak mungkin indeks konsumen jatuh signifikan bila kebijakan bahan bakar minyak (BBM) digulirkan. Tentunya pola konsumsi akan berbeda.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya