Gaga dan Krisis Moral Bangsa

, Jurnalis
Senin 21 Mei 2012 10:32 WIB
Denda Anggia (Foto: dok. pribadi)
Share :

HEBOH Lady Gaga, itulah tema yang akhir-akhir ini menghiasi semua saluran televisi nasional. Seolah ingin melupakan kesedihan akibat musibah kecelakaan Sukhoi Superjet 100 dan teka-teki siapa yang pantas untuk disalahkan, kini televisi lebih asyik menyajikan kontroversi rencana konser Lady Gaga di Indonesia. Pro dan kontra menjadi isu hangat yang menghiasi niat tersebut, tentunya dengan berbagai alasan. Dari kalangan konservatif agama, performa konser Lady Gaga diduga akan memerosotkan moral bangsa khususnya kalangan muda. Bahkan, salah satu agama percaya, lirik Lady Gaga telah melecehkan kepercayaan mereka. Sedangkan kubu lainnya, dengan alasan kebebasan berekspresi, Lady Gaga dianggap halal menggelar konser yang dijadwalkan pada 3 Juni mendatang.
 
Eksapansi Kebebasan
 
Gadis kelahiran New York, 28 Maret 1986 tersebut memang selalu nyentrik di setiap performa konsernya. Hal itu terlihat dari desain kostum-kostumnya yang dianggap nyeleneh dan jauh dari nilai-nilai moral. Jelas, hal tersebut sangatlah tidak pantas jika dipertontonkan di Indonesia.
 
Negara yang dikenal sangat menjunjung budaya moral ini memang selalu dijadikan tempat bulan-bulanan yang mengatasnamakan kebebasan. Salah satunya adalah dengan berbagai konser para penyanyi Barat. Sebelum rencana kedatangan Lady Gaga misalnya, ada konser Katy Perry yang mengusung nilai-nilai kontradiktif dengan budaya Indonesia.
 
Secara faktual, Indonesia memang sangat menjunjung tinggi kebudayaan. Bahkan, undang-undang pun menyebutkan bahwa setiap produk hukum harus menghormati kebudayaan yang ada. Begitu pentingnya kebudayaan bagi ideologi negara, namun pada masa sekarang ini kebudayaan tersebut sedikit demi sedikit terjajah oleh kebudayaan yang datang dari luar.
 
Lebih parahnya lagi, ekspansi kebudayaan luar tersebut melanda pola pikir anak muda yang sejatinya merupakan calon pemimpin masa depan bangsa. Sehingga, ghirah untuk mempertahankan kebudayaan sedikit demi sedikit mulai meredup.
 
Kebudayaan toleransi mulai terkalahkan dengan kebudayaan barat yang bebas, akibatnya rasa saling menghargai pun mulai luntur. Saling menghargai yang dimaksud di sini adalah saling menghargai terhadap berbagai aspek, terlebih lagi dari aspek moral keagamaan. Hal tersebut itulah yang mulai terlupakan di negeri ini.
 
(Si)apa yang salah ?
 
Pendidikan moral di setiap sekolah merupakan hal yang selalu didengungkan. Namun karena sudah terkontaminasi dengan virus kebebasan dari luar, pendidikan tersebut hanyalah menjadi sebuah mata pelajaran yang hilang setelah diujikan.
 
Di sinilah peran pemerintah. Mereka dituntut untuk lebih pro aktif lagi. Pembekalan moral harusnya tidak hanya dimasukkan di bidang pendidikan formal, namun juga pada pendidikan informal dan harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang berlaku.
 
Pemerintah harus pintar-pintar memilih dan memilah kebudayaan yang datang dari luar, mana yang dikira pantas atau tidak. Salah satunya, konser Lady Gaga yang harus dijadikan pekerjaan rumah bagi pemerintah, apakah dia pantas atau tidak untuk menggelar konsernya di sini. Tanpa harus terpengaruhi intervensi dari pihak manapun, pemerintah harus tegas memberi keputusan. Jikalau memang keukeuh ingin mendatangkan Lady Gaga, maka pemerintah harus melakukan kontrak perjanjian dengan dia untuk mengikuti norma-norma kebudayaan yang berlaku di Tanah Air.
 
Denda Anggia
Mahasiswa Syari’ah dan Hukum/Jinayah Siyasah
UIN Snan Kalijaga Jogjakarta

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya