Ubhara & Mahasiswa Thailand Garap Konservasi Lahan Kritis

Nurul Arifin, Jurnalis
Senin 12 November 2012 10:49 WIB
Mahasiswa Ubhara (jas kuning) dan RMUTT (jas merah) di Mojokerto (Foto: dok. Ubhara)
Share :

SURABAYA - Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya menggarap sejumlah lahan kritis di kawasan Kabupaten Mojokerto bersama sejumlah mahasiswa dari Rajamangala University of Technology Tanyaburi Thailand (RMUTT). Program ini merupakan upaya konservasi di daerah-daerah kritis akibat pembalakkan hutan liar.

Menurut staf humas Ubhara M Fadeli, upaya tersebut dilakukan untuk mengatasi berkurangnya debit air dan mengancam matinya sumber air akibat hutan gundul. Selan itu, pelestarian ini otomatis akan berdampak kepada ekonomi masyarakat desa.

"Sebagai desa yang terletak di kawasan penyangga konservasi, Desa Kembangbelor mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu bagaimana  mengurangi tekanan penduduk ke dalam kawasan pelestarian dan suaka alam, memberikan kegiatan ekonomi masyarakat dan merupakan kawasan yang memungkinkan adanya interaksi manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat dengan kawasan konservasi," kata Fadeli dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Senin (12/11/2012).

Fadeli mengatakan, konservasi lahan kritis ini dilakukan dengan cara menanam bambu di kawasan penyangga khusus di sumber air Ngasat, Desa Kembangbelor Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Bambu dipilih karena tanaman ini memiliki manfaat luar biasa. Salah satunya, akarnya yang kuat mampu menahan laju erosi pada tebing sungai dan lereng gunung sehingga menghindari longsor.   Bambu juga merupakan media penyimpan air yang baik sehingga dapat menjaga kelangsungan sumber air. Penanaman bambu juga meminimalkan produksi gas CO2.

"Tiap hektar tanaman bambu mampu menyerap sampai sekira 60 ton CO2 dari udara per tahun. Bambu juga 35 persen lebih banyak menghasilkan O2 dibandingkan dengan tanaman lain," jelasnya.

Konservasi bambu ini, merupakan misi utama dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Ubhara Surabaya. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu bulan pada Oktober hingga November 2012 di desa tersebut. Mahasiswa Ubhara bersama mahasiswa RMUTT bekerjasama dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.  Selain sejumlah mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan para pemuda desa dan para petani dalam menyiapkan bibit bambu petung dan menanam bambu di pusat sumber air Ngasat Desa Kembangbelor.

"Lima belas mahasiswa dari RMUTT dan lima dosen  turut bahu membahu bersama mahasiswa Ubhara melakukan aksi penyelamatan sumber air. Selain kegiatan konservasi bambu, mahasiswa Thailand juga belajar budaya asli pacet yaitu seni Bantengan," tukas pria yang juga ketua pelaksana program KKN-PPM ini.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya