SEOUL - Hubungan Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) selalu diwarnai oleh perseteruan. Namun ketika Kebijakan Sinar Matahari ini diusung oleh Korsel, hubungan bilateral kedua negara itu terlihat harmonis.
Kebijakan Sinar Matahari adalah kebijakan luar negeri Korsel terhadap Korut yang dicetuskan sejak 1998 silam hingga Lee Myung-Bak naik ke tampuk kekuasaan (2008). Pelopor dari kebijakan itu adalah mendiang mantan Presiden Korsel Kim Dae-Jung. Hasil dari kebijakan itupun patut diacungi jempol, oleh karena itulah, Kim Dae-Jung berhasil mendapatkan Hadial Nobel Perdamaian.
Di bawah Kebijakan Sinar Matahari, warga-warga Korsel dihimbau agar tidak memandang Korut sebagai musuh mereka. Sekolah-sekolah pun mengajari para murid diajari untuk tidak membenci negeri komunis itu.
"Kami diceritakan bahwa, warga Korut adalah warga Koreassama seperti kami. Dan agresi mereka ditujukan untuk melawan Amerika," ujar seorang warga Korsel, seperti dikutip Daily Telegraph, Selasa (16/4/2013).
Generasi warga Korsel yang hidup di era Kebijakan Sinar Matahari umumnya memiliki sikap yang lebih toleran terhadap Korut. Beberapa di antara mereka pun berpendapat, Pemerintah Korsel seharusnya mengusir 28 ribu pasukan Amerika Serikat (AS) yang ada di negaranya. Kebijakan itu memang tidak dilanjutkan oleh Lee Myung-Bak karena Lee adalah seorang politisi partai konservatif yang cenderung memilih bersikap keras terhadap negara tetangganya itu.
"Banyak warga Korsel mendukung uji coba nuklir Korut, mereka yakin bahwa suatu saat nuklir Korut bisa menjadi nuklir kami (Korea)," ujar salah seorang warga Negeri Ginseng itu.
Pada survei yang dilakukan di tahun 2008, banyak taruna militer Korsel yang justru memandang AS sebagai "musuh bebuyutan" ketimbang Korut. Salah seorang peramal di Korsel juga mengatakan, ancaman serangan nuklir Korut ke Korsel bukanlah ancaman yang serius.
(Aulia Akbar)