Nyaleg Mahal, Jauh dari Cita-Cita Reformasi

Catur Nugroho Saputra, Jurnalis
Senin 20 Mei 2013 08:48 WIB
ilustrasi dok. okezone
Share :

JAKARTA - Sulitnya mantan aktivis untuk menjadi anggota dewan yang disebabkan mahalnya ongkos politik, sudah jauh dari cita-cita reformasi.
 
Menurut Sekertaris Jenderal (Sekjen) ProDem Andrianto, seharusnya reformasi membuat sistem Pemilu yang sederhana saja tanpa memerlukan modal besar.
 
"Harusnya reformasi membuat sistem yang sederhana saja yang terjadi justru sangat pelik dengan ongkos yang mahal," kata Andrianto, ketika berbincang dengan Okezone, Minggu (19/5/2013).
 
Menurutnya, sulitnya caleg dari kalangan aktivis juga dikarenakan aturan yang didesign untuk memangi para caleg dari kalangan incumbent, elite politik dan mereka yang memiliki modal.
 
Dijelasnkannya, seharusnya ada sebuah regulasi yang adil dan transparan dalam biaya kampaye caleg. Sehingga, para anggota dewan yang tidak mempunyai modal bisa ikut bertarung dengan adil.
 
"Artinya para caleg harus Juga melaporkan kekayaan dan rek kampanyenya," ujarnya.
 
Sebelumnya, mantan aktivis 1998 yang maju menjadi caleg dari Partai Demokrat Sulaiman Haikal, menyatakan menjadi anggota dewan tidak menjadi jaminan bisa memperbaiki sistem parlemen yang sedang berjalan. Dia menyatakan partai politik masih menjadi kendala bagi mantan aktivis untuk menuangkan idealisme mereka di Senayan.
 
Namun, Haikal juga mengatakan memang masih banyak kekurangan yang belum diwujudkan oleh reformasi. Sebagai contoh, kata Haikal, soal potensi pemilu yang dimenangkan oleh para caleg yang punya modal berlimpah.
 
"Mobilisasi besar itu caleg yang memiliki harta berlimpah, tapi itu demokrasi," imbuhnya.

(Catur Nugroho Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya