TEHERAN - Sekira satu bulan lalu pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menginginkan Pemilu Presiden Iran menjadi dukungan atas pemerintahannya. Khamenei menginginkan dua calonnya, Ali Akbar Velayati atau Saeed Jalili memenangkan pemilu.
Tetapi keadaan berubah ketika Hassan Rouhani maju sebagai pemenang dan menggantikan posisi Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran yang baru. Rouhani dianggap sebagai representasi sempurna bagi rakyat Iran karena dirinya dikenal sebagai ulama yang moderat dan reformis.
Rouhani bukanlah sosok favorit Presiden Iran yang diinginkan oleh Khamenei. Tetapi dirinya bukanlah orang lingkaran luar dari Khamenei.
Menurut analis The New York Times, Amir Taheri, media memang menyebut Rouhani sebagai sosok moderat dan reformis. Namun menurut Taheri, Rouhani tidak menyuguhkan proposal reformasi apapun untuk Iran.
"Menyangkut masalah keamanan, Rouhani bukanlah sosok yang moderat khususnya mengenai penanganan terhadap oposan pemerintah dengan cara represif," pendapat Taheri, seperti dikutip the New York Times, Senin (17/6/2013).
Pada kenyataannya, Rouhani adalah loyalis pemimpin tertinggi Iran sejak lama. Dirinya masuk dalam keanggotan Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran sejak 1989. Dirinya juga sempat menjabat sebagai negosiator nuklir Iran sejak 2003 hingga 2005.
Ucapannya dalam sebuah wawancara televisi mengenai nuklir juga membuktikan bahwa Rouhani bukanlah sosok moderat. Pada wawancara tersebut Rouhani menyebutkan, strategi diplomatik Iran dalam penanganan program nuklir Iran adalah cara untuk mengulur waktu menyelesaikan teknologi nuklir yang dimiliki oleh Negeri Paramullah.
Hingga kini belum dapat diketahui arah kebijakan Rouhani terkait barat. Keterikatannya dengan Ayatullah Khamenei menjadi penentu arah kebijakan Rouhani selama empat tahun ke depan dalam memimpin Iran.
(Fajar Nugraha)