MANILA - Wakil Presiden Filipina Jejomar Binay menyatakan, kelompok separatis Moro National Liberation Front (MNLF) telah setuju untuk melakukan gencatan senjata untuk memulai dialog damai dengan Pemerintah Filipina. Perundingan ini dilaksanakan untuk mengakhiri krisis yang telah menyebabkan penyanderaan lebih dari 100 orang di selatan Filipina.
Sempat menemui jalan buntu dalam usaha perundingan, akhirnya pemerintah berhasil mendesak MNLF untuk duduk bersama pada Senin 16 September. Tindakan cepat Filipina terjadi karena tindakan kaum separatis semakin saja meresahkan.
Menurut Binay, persetujuan gencatan senjata dicapai setelah pemimpin separatis MNLF Nur Misuari melakukan komunikasi pra-dialog dengan Binay melalui sambungan telepon.
Setelah mencapai persetujuan gencatan senjata, Binay langsung menugaskan Sekretaris Pertahanan Filipina Voltare Gazmin, sebagai pimpinan dalam operasi menangani krisis Filipina Selatan.
"Detil dari dialog damai akan dimulai dari gencatan senjata di daerah pemukiman penduduk," ujar Binay, seperti dikutip dari Al-Jazeera, Sabtu (14/9/2013).
Diketahui, akibat pertempuran di Kota Zamboanga, kegiatan ekonomi dan pelayanan sipil di kota tersebut lumpuh. Parahnya lagi sekira 22 orang termasuk 15 pemberontak, terbunuh dalam kericuhan antara tentara pemerintah dan separatis MNLF.
Presiden Filipina Benigno Aquino III juga telah mengunjungi Kota Zamboanga pada Jumat 13 September lalu. Dalam pidatonya depan pengungsi Zamboanga dia tidak akan ragu-ragu untuk menggunakan otoritas mereka untuk menyelesai krisis di daerah kedaulatan Filipina. (rhs)