MANILA - Presiden Filipina Benigno Aquino III meminta kaum separatis Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) yang masih bertahan, untuk segera menyerah. Permintaan Aquino tersebut ditujukan untuk mencegah pertumpahan darah setelah 11 hari ricuh.
Benigno yang sudah mengawasi kekacauan di Selatan Filipina sejak satu minggu lalu ini, ketika tiba di Zamboanga menegaskan jika pilihan MNLF untuk menyerah masih terbuka lebar.
"Hidup merupakan sesuatu yang berharga bagi saya, jadi kalian (MNLF) harus mempertimbangkan kehidupan kalian sebaik mungkin," ujar Benigno, seperti dilansir dari Al-Jazeera, Jumat (20/9/2013).
Pernyataan Benigno ini seperti menindaklanjuti pernyataan juru bicara militer Filipina Ramon Zagala. Diketahui, Zagala telah mengancam separatis MNLF, bila mereka tidak menyerah, maka cara-cara kekerasan akan dipakai oleh militer Filipina untuk meredakan pemberontakan.
Lebih dari seminggu lalu, sekira 200 pasukan MNLF melakukan penyerangan kepada lima daerah di pesisir pantai Zamboanga. Saat penyerangan berlangsung, milisi separatis tersebut berhasil menculik sekira 200 tawanan yang dijadikan perisai manusia.
Pemberontakan MNLF telah dimulai sejak dekade 1970an dengan meminta otonomi khusus kaum minoritas muslim Filipina. MNLF juga sempat melakukan perundingan damai dengan pemerintah pada 1996. Namun, karena mereka menilai pemerintah Filipina ingkar janji, MNLF kembali turun gunung untuk memberontak.