SURABAYA - Sikap Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang anti kepada waralaba modern Alfamart dan Indomart dianggap tidak bijak. Sebab, saat ini era pasar modern sudah tidak bisa dipungkiri. Terlebih lagi, banyak waralaba-waralaba yang bersifat lokal.
Kuasa Hukum Indomaret M Sholeh mengatakan, saat ini era pasar modern sudah menjadi gaya hidup di masyarakat. Artinya, banyak waralaba lokal yang berkonsep sama dengan Indomaret dan Alfamart. Toko modern saat ini berkonsep bersih, pembeli mengambil barang sendiri. Sementara toko kelontong yang ada terkesan kumuh dan cenderung dijauhi masyarakat.
"Konsumen banyak memilih toko-toko modern. Bupati Banyuwangi yang anti terhadap Alfamart dan Indomart bukan upaya melindungi pedagang lokal," kata Sholeh kepada Okezone, Senin (3/2/2014).
Ia menjelaskan, jika ingin melindungi pedagang lokal, seharusnya sebagai kepala daerah ada upaya untuk memajukan kondisi lokal. Salah satunya, adalah akses mempermudah pinjaman agar pedagang-pedagang lokal ini berubah menjadi modern. Toko-toko kelontong yang ada diubah menjadi toko modern yang digandrungi masyarakat saat ini.
Nah, untuk melindungi pedagang lokal bukan dengan cara anti waralaba harusnya ada pemberdayaan. Sementara sikap yang anti kepada pasar modern akan merugikan. "Karena jika toko kelontong masih berpikiran kuno maka akan ditinggalkan konsumen dengan sendirinya," ujarnya.
Ia mencontohkan,sama halnya dengan sebuah lembaga pendidikan yang tidak paham dengan selera masyarakat. Misalnya, kondisi lokasinya kumuh dan kurikulum yang diajarkan tidak up to date. "Tentunya akan cepat ditinggalkan konsumen karena tidak cocok dengan selera pasar," ujarnya.
Sebelumnya. Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas, mengeluarkan kebijakan anti-Alfamart dan anti-Indomaret di wilayah yang sekarang dia pimpin. Azwar sudah tiga tahun menjadi Bupati Banyuwangi, Jawa Timur.
"Banyuwangi tidak ada Alfamart dan Indomart. Tidak saya izinkan ada mal di tengah kota. Di kecamatan Genteng saya izinkan bangun mal," kata Anas di diskusi bertema Reformis Hibrida, Reformis Horizontal di Jakarta Teater.
(Muhammad Saifullah )