JAKARTA- Faktor ketokohan masih menjadi dasar pertimbangan seseorang untuk menjatuhkan pilihannya dalam memilih partai politik pada pemilihan umum 2014.
Berdasarkan survei Indonesia Research Center (IRC), masyarakat akan menjatuhkan pilihannya pada parpol yang memiliki figur kuat yang dapat dianggap sebagai personifikasi parpol.
Survei dilakukan pada 1-13 Maret 2013 di seluruh provinsi di Indonesia. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan bantuan kuisioner. Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia minimal berumur 17 tahun. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik acak bertingkat (multistage random sampling) dengan jumlah responden dipilih secara proporsional dari semua provinsi. Jumlah sampel valid 1.400. Diperkirakan ambang kesalahan dari survei ini mencapai kurang lebih 2,6 per pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei membuktikan, 42 persen responden memilih parpol karena tokoh partai yang dimilikinya. “Memilih sebuah parpol karena tokoh partainya, dalam hal ini bisa berarti pendiri partai, ketua umum, atau kader-kader partai yang menonjo, ternyata hampir tak berbeda bila dibandingkan dengan alasan karena calon presiden yang diusung oleh parpol tersebut, yaitu sekira 22 persen banding 20 persen,” tulis IRC dalam keterangannya, Rabu (26/3/2014).
Tentu hal ini hanya berlaku untuk saat ini, dengan pilihan calon-calon presiden yang tersedia. Artinya, secara umum, calon-calon presiden yang telah diperkenalkan kepada calon pemilih, belum dapat secara signifikan mengalahkan daya tarik tokoh-tokoh partai yang telah lebih dulu muncul sebagai representasi parpol.
Selain itu, survei membuktikan, alasan seseorang memilih sebuah parpol adalah karena menyukai programnya. “Sekitar 20 persen responden memilih parpol karena program,” tulis IRC.
Alasan ini sebenarnya lebih merupakan resonansi dari citra parpol yang telah lebih dulu terbangun, mengingat program-program parpol tak pernah dapat tersosialisasi dengan baik, selain hampir mustahil menemukan perbedaan yang prinsip antara program parpol yang satu dan yang lainnya.
“Dengan demikian, bila responden mencoblos sebuah parpol dengan alasan menyukai programnya, hal itu sangat terkait erat dengan minusnya ketokohan pada parpol yang dipilih. Bisa jadi, calon presiden yang diusung tak meyakinkan, atau tokoh-tokoh partainya belum dapat dianggap sebagai sosok yang pantas dijadikan panutan, atau sekaligus keduanya,” katanya.
Alasan lain orang memilih parpol adalah, karena parpol dapat dipercaya. “20 persen responden menyatakan alasan ini, karena lebih merupakan ungkapan kesetiaan pemilih pada parpol yang telah diyakini tepat mewakili dirinya, memahami aspirasinya, dan lebih disukai untuk menjalankan pemerintahan dibandingkan parpol-parpol lain,” ungkap IRC.
Kekuatan 5 Parpol
Berdasarkan serangkaian survei yang dilakukan IRC dari Mei tahun lalu hingga Maret tahun ini, terdapat lima parpol yang elektabilitasnya selalu berkibar di lima besar, yaitu PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura dan Demokrat. Apa yang menjadi kekuatan lima partai politik tersebut?
"PDIP yang selalu berada di puncak, ternyata dipilih karena PDIP mempunyai tokoh-tokoh partai yang disukai oleh pemilihnya, yaitu sekira 31,9 persen,” tulis IRC.
Ketokohan Soekarno yang masih melekat hingga saat ini menjadi modal paling berharga bagi PDIP dalam perjalanannya sebagai partai besar dengan rintangan dan tantangan yang tak kalah besar. Modal ini jauh lebih signifikan dibandingkan faktor Joko Widodo yang telah merebut banyak hati masyarakat Indonesia. Dari seluruh responden yang memilih PDIP, faktor Jokowi, menyumbang 21,6 pada angka elektabilitas PDIP. Seperempat pemilih partai berwarna merah ini percaya pada parpol.
Parpol yang paling banyak dipilih karena calon presiden yang diusungnya, adalah partai Gerindra dan Hanura. Prabowo Subianto menjadi daya tarik utama para pemilih Gerindra. Sekira 35,1 persen dari total pemilih Gerindra mengaku memilih parpol ini karena calon presidennya. Demikian juga yang terjadi dengan pemilih Hanura.
“Sekitar 33,6 persen pemilih Hanura, memilih parpol nomor 10 ini karena Wiranto-Hary Tanoesoedibjo,” imbuh IRC.
Namun, Hanura dimungkinkan akan lebih lincah dibanding Gerindra, mengingat modal Hanura yang lain, yaitu kesukaan pada program dan tokoh partai, lebih menonjol dibandingkan Gerindra. Elektabilitas Hanura (10,2 persen) terus terdongkrak oleh elektabilitas Wiranto-Hary Tanoesoedibjo (14,9 persen). Dibandingkan perkembangan parpol lain, capres Hanura menunjukkan kenaikan yang stabil, mulai dari 4 persen pada Mei tahun lalu, melejit naik menjadi dua digit pada empat bulan setelahnya, dan kini berada di kisaran 15 persen.
Sementara itu, pemilih Partai Golkar adalah pemilih yang paling tak bangga pada capres yang diusung parpolnya. “Hanya 11,3 persen pemilih yang memilih karena faktor Aburizal Bakrie. Angka ini paling rendah dibandingkan faktor capres dari parpol lain, dari partai Demokrat sekalipun yang kandidat-kandidat capresnya belum pernah bertengger di jajaran puncak elektabiltas,” pungkas IRC.
(Stefanus Yugo Hindarto)