DENPASAR - Usai pemilu dihelat, potensi caleg yang tersingkir dan mengalami stres sangat besar sehingga Rumah Sakit Jiwa RSJ Kabupaten Bangli siap memberi pelayanan dalam membantu menyembuhkan mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan, pemerintah memang tidak secara khusus menyiapkan rumah sakit yang menangani caleg stres.Pada dasarnya, setiap rumah sakit di Bali siap melayani siapa saja yang sakit termasuk caleg stres.
Diakuinya, sebelum pemilu digelar pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit, untuk siap memberikan pelajayanan terhadap siapapun termasuk caleg stres.
“Tidak melulu caleg stres yang memiliki jenjang atau stadium penyakitnya mulai ringan sedang dan berat,“ kata Suarjaya, (13/4/2014).
Mereka yang masuk kategori ringan cukup menjalani rawat jalan, sebaliknya jika stadium berat maka harus menjalani terapi. Perawatan rumah sakit berjenjang sesuai tingkat kesetresan caleg di mana telah disiapkan tenaga psikolog maupun psikiater.
Jika melihat pengalaman pemilu sebelumnya, dia memperkirakan ada caleg yang gagal akan mengalami stres meskipun sampai saat ini pihaknya belum mendapat data pasti angkanya.
“Ya pasti ada, informasi seperti itu ( caleg stres), banyak cuma untuk sekarang saya belum terima laporan berapa jumlahnya dari rumah sakit,“ imbuhnya.
Mengantisipasi agar mereka yang telah banyak menghabiskan uang dalam pencalegan kemudian tidak stres, pihak keluarga diminta memperhatikan atau mengenali jika ada tanda-tanda mengarah stres.
Untuk menilainya dilihat dari sisi perkembangan atau perubahan kepribianya seperti susah tidur. Susah tidur atau insomnia sebenarnya sudah masuk kategori mengalami gangguan jiwa ringan. Demikian juga misalnya tiba-tiba seperti mendengar suara atau berbicara sendiri, tertawa sendiri atau menangis sendiri.
“Perubaban perilaku itu apalagi mengamuk sampai anti sosial sudah tergolong schizoprenia harus segera ditangani dibawa ke psikater untuk menjalani terapi,“ katanya.
(TB Ardi Januar)