SOLO - Tiap daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Di Solo Raya, masyarakat biasanya menggelar sejumlah ritual menjelang 'Sasi Poso' (bulan puasa).
Di antaranya nyadran (ziarah kubur), padusan (membersihkan diri dengan cara mandi di pemandian umum atau sendang), dan megengan (selamatan).
Megengan ditandai dengan mengadakan kenduri (selamatan) warga desa untuk 'mapag tanggal' (menyambut bulan suci Ramadan).
Warga Sawahan Jaten masih menjadi salah satu daerah yang memegang tradisi tersebut. Suryani, salah seorang warga sekitar, mengatakan, biasanya warga datang di balai desa dengan membawa 'ambengan' yakni nasi beserta kelengkapan lauknya.
Biasanya nasi gurih, ingkung (ayam utuh) yang dibakar. Ada juga yang berupa kue tradisional seperti apem yang terbuat dari tebung beras, carabikang, kueku, pukis, dan lain sebagainya.
"Kemudian setelah didoakan, mengengan akan dibagikan kembali pada warga untuk dimakan beramai-ramai," kata Suryani saat ditemui Okezone, Jumat (13/6/2014).
Dia menjelaskan, pelaksanaan megengan memang tidak bisa ditunda, meski menjelang puasa sejumlah bahan pokok harganya melambung. Untuk menyiasati, warga membuat megengan dengan menu sederhana seperti seekor ayam diganti dengan telur ditambah tempe dan tahu bacem.
"Yang penting makna dari tradisinya bukan tergantung lawuhe apa (lauknya apa)," pungkasnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)