ICW Nilai Program Pemberantasan Korupsi Capres Normatif

Achmad Fardiansyah , Jurnalis
Senin 16 Juni 2014 07:24 WIB
Jokowi dan Prabowo (Foto: Heru Haryono/Okezone)
Share :

JAKARTA - Koordinator Bidang Hukum Indonesian Coruption Watch (ICW), Emerson Yuntho, menyatakan paparan visi misi dan program aksi kedua pasangan capres-cawapres belum menyentuh upaya pemberantasan korupsi secara kongkrit.
 
"Saya beri catatan, enggak ada capres yang secara kongkrit mau berantas korupsi. Kalau bicara soal pogram ada, jangan-jangan ini kelewat atau gimana,” ujarnya di Jakarta.
 
Meski sudah program-program yang telah dipaparkan oleh masing-masing kubu, namun ICW menilai belum ada jaminan aksi pemberantasan korupsi yang bersifat massif dan komprehensif. "Bicara program, masing-masing beri dukukungan dan komitmen berantas korupsi, tapi bicara kongkrit tidak ada jaminan,” beberanya.
 
Emerson mencontohkan, program-program yang dipromosikan oleh pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa tentang menciptakan penegakan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Hal tersebut menurut dia masih bersifat normatif.
 
"Di sisi lain, saya bertanya-bertanya ke kubu prabowo, kenapa ini lebih minim visi misinya. Saya diskusi, ini menjadikan banyak penafsir. Bagaimana menciptakan penegakan hukum yang seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Ini normatif, ini butuh penafsiran,” ulasnya.
 
Begitu juga terkait penambahan sumber daya manusia penyidik KPK serta pembentukan cabang komisi antirasuah di tingkat kabupaten dan kota. "Kemudian kalau bicara KPK, untuk memperkuat KPK akan menambah penyidik, apakah cuma itu. Ini akan dibentuk di kabupaten, ini tidak jelas, sehingga melahirkan banyak penafsiran,” kritiknya.
 
Hal tersebut langsung dikomentari oleh Tim Sukses Pemenangan Prabowo Hatta, Kastorius Sinaga. Dia menegaskan bahwa pihaknya telah menjelaskan secara terperinci 100 aksi turunan yang ada dalam visi misinya Prabowo Hatta. Dokumen tersebut bahkan telah diserahkan ke KPU.
 
"Yang diserahkan ke KPU dan beredar yang ada, itu visi misi 2 minggu lalu, itu baru makro, tapi 1 minggu kemudian kami sudah keluarkan 100 aksi sebagai turunannya, ada di buku saku. Di buku satu ini tidak ada lagi multitafsir,” tegasnya.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya