JAKARTA - Psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Enoch Markum, menilai kasus mutilasi yang terjadi di Riau sebagai kasus unik. Pasalnya, pasangan suami istri yang melakukan pembunuhan sadis dan mutilasi itu dianggap tidak memiliki perasaan.
Terlebih, pembunuhan dan mutilasi itu dilakukan secara sadar dan bersamaan. "Dalam teori rasional, mutilasi dilakukan untuk menghilangkan alat bukti. Dan mutilasi dianggap sebagai cara paling aman menghilangkan alat bukti," kata Enoch, Sabtu (9/8/2014).
Yang menjadi perhatian dirinya justru penyimpangan yang dialami pasangan tersebut. Pasangan itu sudah pasti mengalami kelainan namun dirinya tidak dapat memastikan darimana role model yang didapat pasangan tersebut hingga tega berbuat sadis hanya untuk memuaskan hasrat seksual keduanya.
"Sadis dan tidak masuk akal kenapa dua-duanya yang melakukan. Seharusnya sebagai pasutri, salah satunya mengingatkan jika ada yang salah. Tapi ini justru keduanya bersepakat melakukannya," tukasnya.
Secara umum, kata dia, penyimpangan seksual dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, dari cara memuaskan. Misalnya, ada yang dengan cara sadis atau masokis saat melakukan hubungan seks hingga mendapatkan kepuasan. Kedua, dilihat dari objeknya.
Untuk mendapatkan kepuasan ada yang melakukan dengan hal yang membuatnya tertarik. Misalnya, kalau untuk yang normal maka melakukan dengan manusia, ada juga yang dengan binatang kalau tidak normal. "Ada yang melakukan dengan anak dibawah umur (pedofilia)," ungkapnya.
Ketiga, kata dia, penyimpangan seksual dengan sesama jenis. Enoch melihat kasus yang terjadi di Riau masuk dalam poin pertama. Artinya, pelaku mencari kepuasan dengan caranya sendiri. "Ini kasuistik dan unik. Mengapa cara mencari kepuasannya dengan membunuh anak kecil," tutupnya.
(Muhammad Saifullah )