SLEMAN - Kehidupan Bripda Muh Taufiq Hidayah memang serba kekurangan secara finansial. Bertempat di bekas kandang sapi, sudah dijalani dua tahun silam sebelum diterima sebagai anggota Polri pada akhir 2014 lalu.
Sebelumnya, dia tinggal di rumah perkampungan. Namun, karena kedua orangtuanya bercerai, akhirnya rumah dijual untuk membeli rumah lainnya.
Hanya saja, hasil penjualan rumah tidak dibelikan tanah atau rumah sehingga Taufik tak memiliki tempat tinggal. Bersama kedua adiknya dan ayahnya, Priyanto, mereka menempati bekas kandang sapi untuk bermukim.
"Saya dulu dari SMK Negeri 1 Seyegan, Sleman. Lulus 2013, kemudian menjadi pegawai honor di sekolah," urainya, Kamis (15/1/2015).
Setelah itu, kata dia, ada temannya memberi tahu ada pendaftaran polisi di Polda DIY. Dia pun nekat mendaftar karena berkeinginan menjadi seorang polisi. "Semua syarat-syarat saya penuhi. Saya jalan kaki dari rumah ke Polda, ada sekira 5-6 kilo lebih, engak punya motor," jelasnya.
Setelah mengikuti berbagai tes, akhirnya diterima menjadi polisi. Dia pun mengajak ayahnya untuk ke Polda DIY dalam sidang penerimaan Brigadir.
"Waktu daftar bapak enggak tau, lolos seleksi saya ajak ke sini. Bapak itu masih antara percaya dan tidak, karena saya tidak beri tahu saat mendaftar," jelasnya.
Meski sudah menjadi polisi akhir tahun lalu, Taufik masih tinggal di bekas kandang sapi. Tanah yang dipakai merupakan kas desa yang harus disewa Rp170 ribu selama satu tahun.
Diketahui Taufik tinggal di rumah tak layak itu saat dia telat saat apel. Saat ditanya alasan kenapa terlambat, dia menceritakan kondisinya kepada pimpinannya. Dia juga menyebut kalau harus jalan kaki karena tidak memiliki kendaraan untuk menuju Polda DIY.
Pimpinannya pun mengecek ke rumah Taufik. Setelah mengetahui, Taufik diminta untuk tinggal di rumah dinas Wadir Sabhara Polda DIY. Kini, dia sudah meninggalkan rumah bekas kandang sapi tersebut.
"Ya nanti pulang kalau pas libur, dua adik saya dan bapak masih tinggal di sana (bekas kandang sapi)," jelasnya.
Kedua adiknya yang masih tinggal di bekas kandang sapi itu adalah Muh. Hafis Hidayat yang masih duduk di bangku klas 2 SD N Mlati 2, dan Muh. Agus Prasetyo masih kelas 1. Sementara ibunya, Martinem tinggal di Bogor, Jawa Barat, bersama suami barunya.
(Kemas Irawan Nurrachman)