KIEV – Hanya berselang sesaat setelah disetujuinya perjanjian gencatan senjata. Pemerintah Ukraina dan pihak pemberontak pro-Rusia, telah saling tuduh mengenai pelanggaran atas perjanjian itu.
Pihak Amerika Serikat (AS) menyatakan mendapatkan gambar yang memperlihatkan Militer Rusia telah menyiapkan sejumlah besar artileri dan peluncur roket di sekitar Debaltseve untuk menghujani pasukan Ukraina.
Debaltseve adalah posisi strategis yang merupakan tempat penghubung jalur kereta api di Ukraina. Kedua belah pihak saling memperkuat posisi mereka di sana.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyatakan berlakunya gencatan senjata dalam sebuah siaran langsung yang disiarkan ke seluruh pasukan bersenjata di Ukraina. Gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam waktu setempat.
Beberapa saat kemudian, tuduhan pelanggaran telah terdengar dari kedua belah pihak. Pihak Ukraina menyatakan tembakan artileri terdengar 50 menit setelah deadline, berasal dari daerah Nalyvaichenko. Sementara itu pihak pemberontak menuduh Militer Ukraina menembakkan artileri beberapa saat lewat tengah malam.
Gencatan senjata ini diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah menelan lebih dari 5.400 nyawa sejak April 2014, namun nada pesimis terdengar nyaring setelah perjanjian yang sama gagal untuk dilaksanakan beberapa waktu lalu.
Presiden Poroshenko sendiri mengakui kecilnya kemungkinan keberhasilan perjanjian ini.
“Sayangnya setelah perjanjian Minsk, serangan dari pihak Rusia semakin gencar. Kami merasa perjanjian ini berada dalam bahaya,” demikian kata Poroshenko seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (15/2/2015).
Perjanjian damai ini juga mewajibkan Ukraina untuk membayarkan dana pensiun dan keuntungan negara kepada warga di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh pemberontak. Blokade ekonomi yang diberlakukan Ukraina telah menghancurkan standar hidup di wilayah-wilayah sebelah timur Ukraina.
(Hendra Mujiraharja)