Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Disepakati Berlaku Mulai 20 Februari

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Minggu 19 Februari 2017 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 19 18 1622256 gencatan-senjata-rusia-ukraina-disepakati-berlaku-mulai-20-februari-Mw8m1jBULz.jpg Menlu Ukraina Pavlo Klimkin, Menlu Prancis Jean-Marc Ayrault, Menlu Rusia Sergey Lavrov, dan Menlu Jerman Sigmar Gabriel (Foto: Sven Hoop/Reuters)

MUNICH – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara kelompok separatis dengan tentara Ukraina resmi berlaku mulai Senin 20 Februari 2017. Kesepakatan tersebut tercapai usai pertemuan antara Menteri Luar Negeri Ukraina, Jerman, Rusia, dan Prancis di Munich.

“Pada 20 Februari rezim gencatan senjata akan dimulai dan penarikan perangkat perang militer juga dimulai. Kami mendukung keputusan ini secara aktif dan jelas menyatakan keyakinan bahwa saat ini, kegagalan tidak diperbolehkan,” ujar Lavrov, mengutip dari Reuters, Minggu (19/2/2017).

Pengumuman tersebut berlangsung tidak berapa lama setelah Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Klimkin menyatakan tidak senang dengan hasil pertemuan pada Sabtu 18 Februari tersebut. Namun, Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mendesak semua pihak menghormatinya.

“Tujuannya adalah gencatan senjata yang dimulai pada 20 Februari dan melakukan apa yang sudah disetujui sejak lama, tetapi tidak pernah diimplementasikan: untuk menarik persenjataan dari kawasan, untuk mengamankan, dan memungkinkan Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) mengawasi kesepakatan tersebut,” ujar Gabriel.

Prancis dan Jerman diketahui sebagai inisiator Perjanjian Damai Minsk yang juga ditandatangani oleh Ukraina dan Rusia pada 2015. Kedua pihak yang bertikai sepakat untuk melakukan gencatan senjata, menarik persenjataan dari garda terdepan, dan melakukan reformasi konstitusional untuk memberikan otonomi khusus bagi Ukraina Timur.

Namun, baik Ukraina dan Rusia sama-sama melanggar kesepakatan tersebut beberapa kali. Puncaknya pada akhir Januari 2017 kekerasan kembali meletus di Avdiivka, Ukraina. Tentara Kiev dan pasukan separatis pro-Rusia kembali terlibat baku tembak. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan Moskow dan Kiev tidak memiliki opsi lain selain menghormati perjanjian.

“Pertemuan menunjukkan bahwa Rusia dan Ukraina tidak memiliki opsi selain menghormati Perjanjian Minsk. Mereka tidak punya alternatif. Kami sepakat untuk bertemu secepatnya, mungkin dalam waktu tiga pekan, untuk melihat apakah terjadi gencatan senjata, penarikan persenjataan, dan pertukaran tahanan. Butuh banyak kesabaran karena kita melihat kurangnya keinginan dari kedua pihak,” tutup Ayrault.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini