MUNGKIN seandainya Kapten Andi Abdoel Azis tak menolak tawaran Presiden RI pertama, Soekarno untuk masuk resimen pengawal persiden “Tjakrabirawa” (EYD: Cakrabirawa), namanya akan kian tercoreng dalam sejarah Indonesia layaknya Letkol Untung Syamsuri.
Pasalnya resimen itulah yang dianggap jadi perangkat Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang memakan korban para pejabat teras TNI Angkatan Darat. Andi Azis sendiri menolak diajak bergabung ke Resimen Tjakrabirawa lantaran sakit hati pada Soekarno.
Veteran KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) itu sebelumnya berontak (Pemberontakan Andi Azis) pada 5 April 65 tahun silam (1950) di Makassar, hingga akhirnya ditangkap ketika hendak menjawab panggilan laporan pertanggungjawaban gerakan itu di Jakarta.
Mantan perwira KNIL yang lahir di Barru, Sulawesi Selatan pada 1924 itu, dijebloskan ke penjara, kendati menurut pengakuannya dalam Pengadilan Militer di Yogyakarta, gerakan itu lahir akibat kebutaan politik dan jadi korban adu domba.