Jenderal Israel: Sulit Kalahkan Hamas di Gaza

Pamela Sarnia, Jurnalis
Rabu 13 Mei 2015 13:28 WIB
Sami Turgeman (Foto: Sputnik)
Share :

TEL AVIV - Perang selama 50 hari antara Israel dan Hamas pada musim panas 2014 berakhir dengan gencatan senjata. Akhir perang itu dikritik oleh sebagian besar pejabat Israel. Mereka menganggap gencatan senjata itu sebagai kegagalan dalam mengusir kelompok Hamas dari Jalur Gaza.

Namun, Kepala Komando Israel Bagian Selatan, Mayor Jenderal Sami Turgeman membantah kritikan tersebut. "Tidak ada yang bisa menggantikan Hamas dalam menguasai Jalur Gaza," kata Turgeman, seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (13/5/2015).

Kesimpulan Turgeman tersebut muncul setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benyamin Netanyahu berusaha mendapat konfirmasi kelompok tengah-kanan pemerintah dari parlemen Israel, Knesset. Netanyahu belakangan ini mencoba untuk menarik perhatian mantan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman. Dia berusaha supaya Lieberman tidak membawa Partai Yisrael Beitenu masuk ke kelompok oposisi.

Salah satu permintaan Lieberman kepada Netanyahu adalah perjanjian untuk mengusir kelompok Hamas yang selama ini memegang kekuasaan de facto di Jalur Gaza. Lieberman dilaporkan mengundurkan diri dari negosiasi dengan Netanyahu karena dia yakin koalisi Netanyahu tidak memiliki keinginan untuk melakukan permintaannya.

Terlepas dari ketidaksetujuan yang terjadi terus-menerus dengan Lieberman, Netanyahu telah menyampaikan secara eksplisit ketidaksetujuannya atas kontrol Hamas di Gaza. Dia mengatakan, kelompok Hamas, kelompok militan ISIS, dan Al Qaeda merupakan cabang-cabang yang berasal dari pohon beracun yang sama.

Turgeman menuturkan, Hamas tidak menginginkan aksi jihd global. Pada kenyataannya, lanjut Turgeman, Hamas memiliki kepentingan yang sama dengan Israel.

"Israel dan Hamas punya keinginan yang sama, yaitu perdamaian dan ketenangan untuk pertumbuhan dan kesejahteraan, bahkan pada situasi sekarang," kata Turgeman.

"Kami tertarik dengan orang yang bertanggung jawab atas perbatasan Gaza. Sebab, bila tidak ada yang bertanggung jawab maka akan terjadi kekacauan di sana dan akan timbul masalah keamanan," lanjutnya.

Turgeman menganggap kekuasaan Hamas di Gaza serupa dengan kekuasaan dalam mengoperasikan sebuah negara atau sebuah kelompok militer. "Gaza memiliki otoritas independen yang berfungsi seperti sebuah negara," jelas Turgeman.

"Di sana ada pemerintahan dan program tahunan, dengan dewan eksekutif dan lembaga pengawas. Di dalam sebuah negara, ada seorang pemimpin, yang dipanggil Hamas, yang mengerti bagaimana cara menggunakan kekuasaan di atas otoritas-otoritas lainnya," dia melanjutkan.

Dia mulai mengacaukan pencitraan Hamas dan konflik antara kelompok itu dengan Israel, pencitraan yang selama ini dibangun oleh politikus sayap kanan Israel. "Perjuangan melawan Hamas bukanlah perang militer," ujarnya.

"Setiap orang yang berpikir perjuangan di antara Israel dan Hamas hanyalah soal penggunaan kekuatan militer melawan satu sama lain pasti tidak memahami situasi yang sebenarnya," sambung dia.

Turgeman menekankan pengusiran Hamas dengan menggunakan kekuatan militer adalah tindakan yang tidak efektif. "Bukanlah tindakan yang tepat dan sudah berakhir. Kebanyakan dari penduduk yang tinggal di Jalur Gaza memandang Hamas sebagai satu-satunya solusi permasalahan mereka," ujarnya.

(Pamela Sarnia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya