Legenda Gunung Pawitra dari Naskah Tantu Panggelaran

Hari Istiawan, Jurnalis
Jum'at 12 Juni 2015 07:43 WIB
Pendaki di Gunung Pawitra (foto: Hari Istiawan/Okezone)
Share :

MOJOKERTO - Kabut putih silih berganti menyelimuti puncak Gunung Penanggungan. Meski sinar mentari sudah terasa di kulit, namun kabut seakan tak pernah berhenti menyelimuti puncak gunung setinggi 1.653 mdpl ini. Tak heran jika dulu gunung ini disebut Gunung Pawitra yang juga berarti kabut.

Legenda gunung ini berasal dari salinan naskah {Tantu Panggelaran} bertarikh Saka 1557, atau 1635 M. Diceritakan dalam salinan naskah itu, kata Kusworo, anggota tim Ekspedisi Penanggungan Ubaya, Pulau Jawa pada jaman dahulu tanahnya senantiasa bergetar. Tidak ada bukit maupun manusia. Karenanya, Bhatara Guru mengumpulkan semua dewa dan makhluk Kahyangan dan menugaskan mereka ke pegunungan Himalaya di Jambudwipa (India).

Para dewa-dewa ini mendapat tugas memindahkan gunung suci Mahameru ke Jawa agar tanahnya menjadi stabil dan berhenti bergoyang-goyang. Setelah pamit, para dewa pergi ke Himalaya dan melihat Sang Hyang Mahameru yang tingginya sampai menyentuh langit. Puncaknya lalu dipotong dan diusung beramai-ramai ke Jawa.

Sesampai di Jawa, potongan puncak Mahameru itu mulai runtuh dan beberapa bagiannya jatuh dalam perjalanan ke timur. Reruntuhan ini kemudian menjadi gunung Wilis, diikuti gunung Kelud, Kawi, Arjuna dan Welirang. Sisanya lalu diletakkan di daerah Lumajang dan dikenal sebagai Gunung Semeru hingga sekarang. Adapun puncak tertinggi melepas dan berdiri sendiri yang disebut Pawitra (kini Penanggungan), yang berarti bersih, murni, keramat atau suci, bebas dari bahaya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya