“Sejak 2013, awan panas Sinabung cenderung meluncur di sektor selatan (Desa Berastepu, Dusun Sibintun, Desa Tiga Pancur). Saat ini, awan panas guguran juga meluncur ke sektor tenggara (Desa Suka Nalu, Desa Kuta Tengah). Tidak tertutup kemungkinan akan ada jalur baru luncuran awan panas pada Status Awas ini,” katanya, Jumat (19/6/2015).
Ia menjelaskan, pertumbuhan kubah lava pada sisi selatan puncak Gunung Sinabung masih tetap berlangsung dengan kubah yang menggantung sekira3,2 juta kubik. Sementara di sisi tenggara, pertumbuhannya masih cukup tinggi. Hal itu ditandai dengan adanya awan panas yang bersumber dari kubah sisi tenggara. Untuk pertumbuhan kubah sendiri, tidak begitu signifikan, karena setiap terjadi awan panas dan kubah yang menggantung ikut runtuh.
“Hingga pukul 17.00 WIB, telah terjadi lima kali awan panas guguran sejauh 1,5 sampai 3 kilometer (km) ke arah tenggara-selatan. Sementara kolom debu erupsi membumbung dengan ketinggian 500 hingga 2000 meter (m) bergerak ke timur dan tenggara seiring arah angin,” jelas Armen.
Pihaknya tidak bosan untuk terus mengimbau masyarakat agar mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan, yakni tidak beraktivitas pada zona merah Sinabung. Terlebih pada radius 7 kilometer sektor selatan tenggara.
Sementara untuk daerah yang terdampak debu masyarakat diimbau menggunakan masker. Hingga berita ini diturunkan, Kota Berastagi dan sekitarnya masih dihujani material debu vulkanik pasca erupsi dan luncuran awan panas Sinabung. (sindonews) (fal)
(Syukri Rahmatullah)