"Tidak bisa dibandingkan, karena beda harapan dan beda orang," ujar Ray kepada Okezone, Rabu (12//8/2015).
Meski demikian, ia menganggap perombakan yang dilakukan siang tadi terhadap lima menteri serta Sekretaris Kabinet, merupakan bukti bahwa selama 10 bulan memimpin, mantan Gubernur DKI itu melakukan spekulasi.
Terlebih posisi Jokowi yang berada berbagai kepentingan. "Sebelumnya lebih spekulasi, mencari titik keseimbangan," imbuhnya.
Ray lantas memprediksi ke depannya, di mana Jokowi bakal kembali melakukan kocok ulang kabinetnya.
"Bakal ada (reshuffle) lagi. Ini bukan terakhir, karena yang mestinya dirombak itu pada tataran birokrasi, seperti Menteri Yuddy (Chrisnandi, Menteri PAN-RB)," pungkasnya.
(Randy Wirayudha)