Selain soal firasat lagu ‘Gugur Bunga’ itu, sedianya seolah sudah ada pertanda lain nan ganjil, sejak Kamis sore, 30 September. Ketika tengah bersantai di teras atas rumahnya, Jenderal DI Pandjaitan lebih sering melamun. Suatu hal yang tak pernah dilakukannya di waktu senggang seperti kegiatan baca buku atau main golf seperti kebiasaannya.
Malam harinya ketika anak ketiganya, Salomo Pandjaitan tengah belajar, sang Ayah seperti melontarkan petuah terakhir setelah membaca koleksi buku sejarah Salomo sambil mengelus-elus kepala putranya itu.
“Sejarah menjadi penting bagi kamu dan kita sekeluarga. Kamu harus membiasakan diri untuk membaca buku sejarah dengan baik dan cermat,” papar DI Pandjaitan berpesan yang disambut anggukan dari Salomo. Sebuah ironi di mana tak lama kemudian, sang Ayah turut jadi bagian dalam buku sejarah bangsa ini.
(Randy Wirayudha)