SURABAYA - Kota Surabaya disebut Kota Pahlawan bukan sekadar kiasan atau kata-kata yang didramatisir. Di kota inilah pada 10 November 70 tahun lampau, sejumlah manusia merdeka mempertahankan mati-matian martabat Republik Indonesia yang baru lahir, dari gempuran pasukan Inggris yang kenyang pengalaman di Perang Dunia II.
Karena tak rela pasrah pada ultimatum Inggris, Kota Surabaya jadi lautan api dan darah arek-arek Suroboyo yang digempur habis-habisan dari darat, laut, dan udara.
Peristiwa dahsyat seperti itulah yang digambarkan parade juang dan teatrikal dari "Surabaya Juang" pada Minggu siang (8/11/2015). Parade yang mengikutsertakan penggiat sejarah dari Bandung, Bekasi, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Bojonegoro, Cirebon, Medan, Trenggalek dan Surabaya sendiri itu, menggulirkan teatrikal dari Tugu Pahlawan, Jalan Kramat Gantung, Siola, Jalan Tunjungan, Jalan Gubernur Suryo, Jalan Yos Sudarso hingga Taman Suryo.
Gelaran parade juang ketujuh tahun ini, diharapkan jadi pengingat untuk generasi Kota Surabaya dan segenap Indonesia, terkait babak peristiwa pertempuran Alun-Alun Conthong dan Gedung Siola yang juga termasuk dua peristiwa tragis dalam rangkaian Pertempuran Surabaya.
"Ada dua peristiwa tragis yang akan diteatrikalkan kembali. Peristiwa Alun-Alun Conthong (kini kawasan Baliwerti) terjadi pemboman hebat dari Inggris. Banyak korban bergelimpangan dengan keadaan tangan dan kakinya putus, usus terburai, tapi PMI enggak bisa menolong karena bombardir Inggris" papar penanggung jawab event Parade Juang, Heri 'Lentho' Prasetyo kepada Okezone, Minggu (8/11/2015).
Babakan lain yang diteatrikalkan adalah peristiwa Gedung Siola, di mana terjadi tindakan heroisme seorang tokoh pemuda bernama Madun. "Dikisahkan waktu itu, Madun seorang diri memberi covering fire atau tembakan perlindungan dengan senapan mesinnya menghadang tentara Inggris, agar teman-temannya bisa menyelamatkan diri," tambahnya.
Tapi sayangnya, menurut cerita, Madun sendiri akhirnya tewas. Pemboman dari udara oleh Inggris membuat Madun tewas dengan kondisi hangus terbakar. Pun begitu, jasad Madun masih nampak masih dalam posisi di depan senapan mesinnya, terpaku tak bernyawa.
(Muhammad Saifullah )